Trowulan National Capital City

mojokerto

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang terletak di Asia Tenggara dan pemerintahannya berbentuk republik. Indonesia mempunyai 5 pulau besar diantaranya adalah pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan panjang garis pantai lebih dari 81.000 km serta lebih dari 17.508 pulau dan luas laut sekitar 3,1 juta km2 sehingga wilayah pesisir dan lautan Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan dan keanekaragaman hayati (biodiversity) laut terbesar di dunia dengan memiliki ekosistem pesisir seperti mangrove, terumbu karang (coral reefs) dan padang lamun (sea grass beds) (Dahuri et al. 1996). Serta mempunyai masyarakat plural terbesar terdiri dari bermacam-macam suku bangsa, budaya dan agama. Indonesia terdiri dari 33 provinsi yang terbentang luas di khatulistiwa, dipisahkan oleh lautan luas dan kaya akan hasil alam (Dahuri, R. et al, 1996).

Berdasarkan letak astronomisnya, Indonesia berada di antara 6° LU – 11° LS dan antara 95° BT – 141° BT. Menurut letak geografisnya, Indonesia terletak di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia, dan berada di antara dua samudra, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang merupakan pertemuan dua samudra besar (Samudra Pasifi dan Samudra Hindia) dan diapit daratan luas (Benua Asia dan Austraia), hal itu menyebabkan pengaruh terhadap kondisi alam. Wilayah Indonesia beriklim laut, sebab merupakan negara kepulauan, sehingga Indonesia banyak memperoleh pengaruh angin laut yang mendatangkan banyak hujan.Indonesia memiliki iklim musim, yaitu iklim yang dipengaruhi oleh angin muson yang berhembus setiap 6 bulan sekali berganti arah. Hal ini yang menyebabkan di Indonesia dikenal adanya musim penghujan dan musim kemarau. Letak Geografis Indonesia sangat berpengaruh terhadap keadaan penduduk yaitu Indonesia terletak di antara negara-negara berkembang, sehingga memiliki banyak rekanan dan mitra kerja sama.Indonesia banyak dipengaruhi kebudayaan asing, mulai dalam bidang seni, bahasa, peradaban maupun agama.Menunjang perdagangan di Indonesia dan menambah sumber devisa negara karena berada dalam jalur lalu lintas perdagangan dan pelayaran yang cukup ramai. Hal ini menjadikan posisi Indonesia sangat strategis di mata dunia internasional.

Kota Jakarta yang sekarang merupakan evolusi dari Kota yang dulu bernama Batavia, Ibukota Hindia Belanda buatan VOC.  Kota Jakarta yang kita kenal sebagai Ibu Kota Negara bisa dibilang simbol Ibu Kota warisan penjajah. Berdasarkan undang-undang Republik Indonesia nomor 10 tahun 1964, Jakarta ditetapkan sebagai ibukota negara yang di sahkan tanggal 31 Agustus 1964 oleh presiden Soekarno pada saat itu. Semenjak dinyatakan sebagai ibu kota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta. Pemerintah pun mulai melaksanakan program pembangunan proyek besar, seperti membangun pemukiman masyarakat, dan mengembangkan pusat-pusat bisnis kota. Hingga saat ini, Jakarta masih harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk, seperti banjir, kemacetan, serta kekurangan alat transportasi umum yang memadai. Yang terbaru adalah Undang-undang No. 29 Tahun 2007 Pasal 4 dan Pasal 5 yang menegaskan kembali Provinsi DKI Jakarta adalah daerah khusus yang berfungsi sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sekaligus sebagai daerah otonom pada tingkat provinsi. Provinsi DKI Jakarta berperan sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki kekhususan tugas, hak, kewajiban, dan tanggung jawab tertentu dalam penyelenggaraan pemerintahan dan sebagai tempat kedudukan perwakilan negara asing, serta pusat/perwakilan lembaga internasional.

Sebagaimana umumnya kota megapolitan, Jakarta memiliki masalah stress, kriminalitas dan kemiskinan. Penyimpangan peruntukan lahan dan privatisasi lahan telah menghabiskan persediaan taman kota sehingga menambah tingkat stress warga Jakarta. Kemacetan lalu lintas, menurunnya interaksi sosial karena gaya hidup yang individualistik juga menjadi penyebab stress. Tata ruang kota yang tidak partisipatif dan tidak humanis menyisakan ruang-ruang sisa yang mengundang tindak laku kriminalitas. Penggusuran kampung miskin dan penggusuran lahan usaha informal oleh pemerintah adalah penyebab aktif kemiskinan di Jakarta. Tata ruang kota yang sering berubah-ubah, menyebabkan polusi udara dan banjir sulit dikendalikan. Walaupun pemerintah telah menetapkan wilayah selatan Jakarta sebagai daerah resapan air (Perda Nomor 1 Tahun 2012), namun ketentuan tersebut sering dilanggar dengan terus dibangunnya perumahan serta pusat bisnis baru. Beberapa wilayah yang diperuntukkan untuk pemukiman, banyak yang beralih fungsi menjadi tempat komersial.

Jakarta, ibu kota dan juga kota terbesar di Indonesia, memiliki penduduk lebih dari 9,5 juta jiwa berdasarkan hasil sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah penduduk Jakarta saat ini. Padahal banyak pengamat perkotaan mengatakan Jakarta sebenarnya hanya dirancang untuk dihuni maksimal tujuh juta jiwa. Tak pelak pertumbuhan penduduk yang tak terkendali ini membuat masalah terus muncul di ibukota, salah satunya adalah kemacetan lalu lintas yang semakin hari kian memanjang. Dari berbagai data menunjukkan, jumlah seluruh kendaraan bermotor di Jakarta ternyata jauh lebih banyak ketimbang jumlah penduduknya. Padahal, jumlah kendaraan bermotor terus tumbuh rata-rata 10-15% tiap tahun. Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km2, dengan penduduk berjumlah 9,5 juta jiwa  merupakan metropolitan terbesar di asia tenggara atau terbesar kedua di dunia. Dilihat dari luas wilayah dan banyaknya penduduk yang bermukim di Jakarta membuat ruang gerak menjadi sempit. Melihat hal ini seharusnya pemerintah bergerak cepat untuk mengatasi masalah yang terjadi di Jakarta sebagai ibu kota negara. Pembangunan yang terus terjadi di Jakarta membuat seolah daerah lain seperti di anak tirikan. Hal tersebut membuktikan bahwa masih adanya pembangunan yang tidak merata disegala bidang. Misalnya daerah timur di indonesia, seperti Papua masih terbilang sangat jauh tertinggal meskipun otonomi daerah sudah diberlakukan sejak tahun 2008 (Perpu No.1 Tahun 2008 mengenai otonomi khusus). Jakarta sejak jaman penjajahan hingga kemerdekaan terus melakukan pembangunan, akibatnya penyempitan lahan hijau semakin luas dikarenakan penggunaan lahan yang terus menerus tanpa melihat peruntukan lahan tersebut. Penumpukan masyarakat, baik dari kalangan elit hingga yang kecil membuat permasalahan semakin kompleks. Bahkan pemberitaan nasional pun terkonsentrasi hanya pada Jakarta, dikarenakan permasalahan tersebut diatas, yang tidak segara dicari pemecahannya.

Melihat kondisi diatas perlunya diadakan pengkajian wacana pemindahan Ibukota. Kondisi Jakarta sebagai sebuah ibu kota negara dirasakan semakin tidak nyaman. Beban fungsi pelayanan dan kelayakan Jakarta dirasakan semakin tidak optimal terutama akibat penyimpangan penataan ruang dan mempertimbangkan kemacetan lalu lintas, bencana banjir, dan kerawanan gempa. Selain itu, ketimpangan ekonomi di luar Jakarta dan didalam Jakarta sangat kelihatan. Sehingga diperlukan solusi strategis untuk pemindahan ibukota sebagai upaya untuk mengurangi beban kota Jakarta dan sebagai solusi untuk mendorong keseimbangan pembangunan wilayah dengan meredistribusi kegiatan pemerintahan, bisnis, seni, budaya dan industry keluar wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Pemindahan ibu kota negara itu merupakan hal yang lazim terjadi, sebagaimana Amerika Serikat yang pernah memindahkan ibu kota dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin, Inggris dari Winchester ke London, Pakistan dari Karachi ke Islamabad dan Brasil dari Rio de Jeneiro ke Brasilia.

Ada beberapa opsi terkait pemindahan ibu kota negara. Dan wacana ini pernah disampaikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010. Pertama, mempertahankan Jakarta sebagai ibukota sekaligus pusat pemerintahan  benahi Jakarta dengan membangun segala prasarana dan sarana transportasi yang masih di permukaan, di bawah permukaan, dan di atas permukaan. Kedua, mengikuti cara Malaysia yang membuat Putrajaya sebagai pusat pemerintahan, dan terletak tidak jauh dari Ibukota, di Kuala Lumpur. Malaysia membutuhkan waktu 5 – 7 tahun untuk membangun  Putrajaya. Dana yang dihabiskan sekitar Rp 80 triliun. Jadi disini adanya pemisahan antara ibukota pemerintahan dengan ibukota pusat perekonomian dan bisnis. Ketiga, ibukota dapat dipindahkan ke kota di luar Jakarta. The real capital, the real goverment center. Seperti Canberra (Australia), Brasilia (Brasil), Ankara (Turki), dan tempat-tempat yang lain. Tentu ketiga opsi ini ada positif dan negatifnya.

Melihat opsi pemindahan ibukota dan jati diri negara Republik Indonesia yang merupakan negara maritime dimana dua pertiga wilayahnya adalah laut dan terdiri dari banyak pulau2.  Pembangunan ibukota Indonesia yang baru tidak boleh lepas dari konsep dan jiwa bahari/maritime. Apalagi di pemerintahan yang baru ini telah digagas sebuah visi yakni Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia. Dimana didalam konsep poros maritime dunia terdapat lima prinsip utama yakni  membangun kembali budaya maritim Indonesia, kedua Indonesia akan menjaga dan mengelola sumber daya laut, dengan fokus membangun kedaulatan pangan melalui pengembangan industri perikanan, ketiga memprioritaskan pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim, keempat melaksanakan diplomasi maritime, terakhir membangun kekuatan pertahanan maritime. Untuk mewujudkan hal tersebut salah satunya harus ditunjang dan ditopang dengan ibukota republic yang berjiwa maritime yang kuat.

Didalam sejarah Indonesia masa lampau, terdapat kerajaan majapahit yang merupakan kerajaan maritime yang besar dan mampu menguasai sebagian besar wilayah nusantara bahkan hingga ke india dan Burma.  Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293. (Hall, D. G. E., Sejarah Asia Tenggara , Surabaya : Usaha Nasional, 1988. Hlm. 72). Aspek penunjang Majapahit sebagai kerajaan Maritim bukan hanya dengan armada angkatan laut yang kuat namun juga Kerajaan Majapahit memiliki pelabuhan-pelabuhan yang dapat menggerakan roda perekonomian rakyat pada saat itu. Berdasarkan pada catatan musafir Cina bernama Ma Huan dapat diketahui bahwa kehidupan masyarakat dan perekonomian Majapahit dalam masa tersebut relative maju, yang dimana penduduk di pantai utara di kota-kota  pelabuhan seperti Gresik, Tuban Surabaya, dan Canggu kebanyakan berprofersi sebagai  pedagang. Kota-kota pelabuhan tersebut banyak dikunjungi oleh pedagang asing yang berasal dari Arab, India, Asia Tenggara dan Cina. Ma huan memberitahukan bahwa di kota-kota  pelabuhan tersebut banyak terdapat orang-orang Cina dan Arab yang menetap dan berdagang di kota-kota tersebut.Sistem perdagangan pada kota-kota pelabuhan yang terdapat di Kerajaan Majapahit merupakan sebuah cirri utama dalam sebuah kerajaan maritime yang dimana melalui sistem perdangangan tersebut sangatlah mendorong perekonomian masyrakat Majapahit. (Aris Munandar, Agus,  Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian . Jakarta : Komunitas Bambu, 2008)

Ibukota Kerajaan Majapahit terletak di Trowulan, Mojokerto. Dimana di sekitar Mojokerto terdapat salah satu sungai terbesar di Jawa Timur dan terpanjang kedua di Pulau Jawa yakni sungai berantas.  Dahulunya sungai ini dijadikan sebagai sarana transportasi kapal-kapal majapahit. Daerah sepanjang sungai brantas ini juga subur dan dikenal sebagai penghasil bahan pertanian.  Majapahit tidak hanya dikenal sebagai negara maritime tetapi juga sebagai negara agraris. Para penggagas kerajaan Majapahit membangun kerajaan yang meramu dua basis kekuatan, maritim dan agraris. Visi tersebut didukung dengan lokasi Ibukota Kerajaan Majapahit di daerah hilir sungai (Brantas) yang strategis. Sehingga dapat memudahkan pengawasan perdagangan pesisir yang sekaligus dapat mengendalikan produksi pertanian di pedalaman. 

Pada era sekarang, Trowulan telah berubah menjadi sebuah kota yang terletak di mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Gambaran topografi di wilayah Kota Mojokerto meliputi dataran rendah, sungai sungai. Daerah dataran rendah di  Kota Mojokerto di dua Kecamatan. Sungai sungai yang mengalir di  Kota Mojokerto adalah sungai berantas yang membentang sepanjang 47, 25 Km dengan debet air rata rata 202,73/ 20, 21 M3 .Sungai berantas adalah satu satunya sungai yang terpanjang di Jawa Timur yang berhulu di  Kota Malang kemudian terbelah menjadi dua sungai kecil di Kota Mojokerto, yaitu sungai Porong yang menuju ke Kota Sidoarjo dan sungai Mas yang menuju ke Kota Surabaya dengan membentuk sebuah Delta yaitu terbentuknya kota Surabaya. Jumlah penduduk kota Mojokerto sekitar 134.222 dan kepadatan penduduknya tergolong rendah 8.152 jiwa per km2. Selain itu didaerah-daerah sekitar kota mojokerto, terdapat kota-kota dan kabupaten yang juga sangat subur dan terdapat potensi alam yang sangat memungkinkan untuk dikelola. Selain itu dengan ditunjang oleh pelabuhan-pelabuhan yang bagus di bagian utara jawa timur yakni pelabuhan tanjung perak yang menjadi salah satu bagian dalam rencana tol laut Indonesia yang nantinya dapat memudahkan untuk perdagangan. Selain itu, terdapat juga akses yang mudah untuk ke bandara Juanda di Surabaya dan Abdurahman Saleh di malang untuk transportasi udara.  

Melihat kondisi Jakarta yang tidak lagi memungkinkan sebagai ibukota Indonesai dan sekaligus mempertimbangkan posisi strategis dari kota Mojokerto dan sisi historis sebagai bekas ibukota kerajaan maritime terbesar majapahit, maka kami mempunyai gagasan untuk mengembalikan lagi kejayaan majapahit dengan memindahkan ibukota pemerintahan Indonesia ke Trowulan Mojokerto, bekas ibukota Majapahit. Untuk mengimplementasikannya kami membuat PKM GT ini dengan judul, “Trowulan National Capital City, Konsep Desain Ibukota Baru Republik Indonesia 2045 Berkonsep Waterfront and Maritime City Sebagai Solusi Untuk Mengurangi Beban Jakarta dan Menunjang Visi Indonesia Poros Maritim Dunia”

B. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan PKM GT ini adalah sebagai berikut :

Untuk membantu memberikan solusi bagi permasalahan Jakarta

Untuk mengembalikan lagi kejayaan Indonesia seperti pada zaman kejayaan kerajaan Majapahit

Untuk membangun sebuah desain ibukota RI masa depan yang berwawasan maritime yang kuat

Untuk mengembalikan ingatan rakyat Indonesia mengenai peradaban maritime nusantara

 

C. Manfaat

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan PKM GT ini adalah sebagai berikut :

Bagi mahasiswa

Dapat ikut serta dalam mengawal pembangunan Indonesia

Dapat menambah kecintaan dan rasa peka dalam berbangsa dan bernegara

Bagi pemerintah

Mendapat masukan untuk memutuskan kebijakan-kebijakan terkait dengan keberlangsungan republic Indonesia di masa depan

 

Referensi :

Dahuri, R. et al, 1996. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT.

Pramadya Paramita, Jakarta.

Badan Pusat Statistik

http://www.merdeka.com/dunia/lima-negara-ini-pernah-mengalami-perpindahan-ibu-kota.html

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/175949-sby–tiga-opsi-pemindahan-ibukota-dan-macet

http://diknas.mojokertokota.go.id/index.php?view=article&task=showDetail&id=6

Konsep Pengembangan Kawasan Natuna Terintegrasi Tol Laut

Rancangan-Arsitektur-Tol-Laut-Indonesia

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan dimulai pada akhir tahun 2015. Tujuan utama dicanangkannya MEA ini adalah untuk meningkatkan daya saing negara-negara anggota ASEAN dikancah dunia dengan peningkatan perdagangan, investasi, pariwisata, dan pembangunan negara-negara anggota ASEAN. Sehingga, diperlukan konektivitas intra-regional yang baik untuk mendukung aliran sumberdaya manusia, barang, jasa, dan modal yang diperlukan. Salah satunya adalah konektivitas maritim yang menyokong 90% aliran sumberdaya tersebut. ASEAN telah mengembangkan sistem “Ring Shipping Route” dengan menunjuk 47 pelabuhan utama di jaringan transportasi intra-ASEAN untuk melayani lalu lintas perdagangan via laut di kawasan ASEAN.

Kawasan Asia Tenggara, sebagai tempat domisili Masyarakat ASEAN, memiliki luas wilayah 4.481 km2 terdiri dari wilayah daratan (mainland) dan kepulauan (island) yang dihubungkan oleh perairan laut, yang terluas adalah Laut China Selatan. Laut China Selatan memiliki peran yang sangat penting bagi ASEAN sebagai penghubung utama karena letaknya yang secara geografis berada di tengah-tengah Kawasan Asia Tenggara. Laut China Selatan juga memiliki peran penting sebagai Sea Lanes of Communication (SLoC) dan Sea Lanes of Trade (SLoT). Jalur ini sangat vital bagi perdagangan internasional dan pemasok energi yang merupakan modal utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan dan dunia. Perairan ini juga menjadi semakin vital keberadaannya setelah terjadi pergeseran peta politik dan peta ekonomi dunia ke Kawasan Asia Pasifik akibat peningkatan kekuatan ekonomi dan militer China.

Salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang berhasil mengoptimalkan potensi  jalur SloC dan SloT adalah negara Singapore. Pelabuhan Singapura merupakan salah satu pelabuhan top dan terbesar di dunia nomor dua setelah pelabuhan Shanghai, China, dengan throughput (lalu lintas) peti kemas pada tahun 2013 mencapai 32.6 juta TEUS (Twenty Foot Equivalent Unit) atau Boks (ukuran 20 feet) dan 139 ribu kedatangan kapal,  mengalahkan pelabuhan-pelabuhan top Eropa seperti Rotterdam, Belanda (urutan ke-11) dan Hamburg, Jerman (urutan ke-14). Jumlah ini sangat jauh jika dibandingkan dengan throughput peti kemas di dua pelabuhan besar di Indonesia seperti Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak, masing-masing 6 juta TEUS dan 3 juta TEUS. Tak ayal pendapatan dari Pelabuhan Singapura mampu menyumbangkan sekitar 7 persen dari Gross Domestic Product (GDP).

Pemerintahan Indonesia yang baru (Jokowi-JK) mencanangkan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia yang salah satunya akan diwujudkan dengan memprioritaskan pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritime melalui Konsep Jalur Tol Laut. Tol Laut merupakan penyelenggaraan angkutan laut secara tetap dan teratur yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan hub disertai feeder dari Sumatera hingga ke Papua dengan menggunakan kapal-kapal berukuran besar. Dari pelabuhan-pelabuhan utama tersebut dilakukan distribusi logistic dengan kapal perintis di dalam jaringan sub-koridor. Pelabuhan utama Tol laut berada di Balawan, Jakarta, Surabaya, Makassar dan Sorong.  Konsep Tol Laut berangkat dari permasalahan besarnya biaya logistik nasional terutama pengiriman ke wilayah Indonesia bagian timur. Beberapa barang tertentu di Indonesia bagian timur harganya jauh lebih mahal dibanding daerah di Indonesia bagian barat. Bahkan pengiriman barang didalam negeri lebih mahal daripada keluar negeri.

Secara umum, program ini mirip dengan Konsep Pendulum Nusantara yang digagas oleh Pelindo.  Kelemahan kedua konsep ini adalah belum adanya rencana pengembangan Perairan Laut China Selatan dalam upaya membangun konektivitas maritime Indonesia. Padahal, perairan ini memiliki posisi strategis  di kawasan ASEAN serta sumberdaya alam yang sangat besar untuk bisa menggeser posisi kekuatan ekonomi singapura dan menjadikan Indonesia sebagai Regional Maritime Power di Asia Tenggara untuk menuju Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Untuk mengatasi kelemahan kedua konsep tersebut maka kami mempunyai gagasan untuk mengintegrasikan Pembangunan Kawasan Natuna dengan  konsep Tol Laut. Perairan Natuna memiliki beberapa gugusan pulau yakni Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natuna dengan pulau terbesar adalah Pulau Bunguran di Kepulauan Natuna. Keberadaan Natuna secara geografis, berada pada jalur SLoC yang merupakan jalur laut pengapalan dunia dan juga ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) yang merupakan alur pelayaran kapal di Indonesia. Laut Natuna., secara geopolitik berbatasan langsung dengan Laut China Selatan dan berada di sentral negara-negara ASEAN. Dan secara geo-ekonomi berada pada jalur SLoT yang menjadi penghubung Selat Malaka dengan Kawasan Asia Pasifik dan merupakan jalur pelayaran yang tersibuk didunia. Kawasan ini juga diprediksi memiliki cadangan energi dan sumberdaya laut yang melimpah. Kawasan Natuna memiliki luas wilayah 264.198,3 km2. Dengan luas daratan 2.001,3 km2 (setara 3 kali Jakarta dan 2,5 kali Singapura) dan lautan 262.197,07 km2.

Melalui pembangunan pelabuhan internasional  dengan berbagai fasilitas pendukungnya di Pulau Bunguran dan mengintegrasikan pelabuhan Natuna dengan jalur Tol Laut, maka Natuna akan berubah menjadi salah satu daya tarik pelayaran dunia. Pulau Bunguran dikembangkan sebagai pelabuhan transit dua jalur ekonomi, yaitu Tol Laut dan SLoT. Keuntungan dari integrasi ini yaitu akan terjadi peningkatan arus barang dan jasa yang akan melalui dua jalur tersebut. Kekayaan sumber daya yang dimiliki Indonesia tentu menarik minat dunia singgah di Natuna. Dengan begitu, akan terbentuk kawasan ekonomi Natuna. Letak geografis Natuna yang sentral di ASEAN dan posisinya yang berada di Laut China Selatan akan menguntungkan Natuna untuk lebih dipilih menjadi pusat ekonomi dibandingkan Singapura. Sehingga, diharapkan akan terjadi pergeseran ekonomi dari Singapura menuju Natuna dan pada akhirnya Kawasan Natuna akan menjadi Poros Maritim Dunia.

by : @nantodenanto & @habibprasetya
for OKTI Prancis Paper Competition

Indonesian Traditional Games : Egrang

egrang

EGRANG or stilts is a traditional plaything 2 rods made of bamboo which has pedestal bottom. This game is not foreign, though in different regions in the know with the name that is different. today already difficult to find, either in the village or in the city, stilts game has been around since time immemorial and is a game that requires skill and balance the body.

Stilts game is very unique because it takes skill and balance to your body when to ride, so not everyone both adults and children can play stilts. Stilts form adapted to the wearer according to the wearer’s age, when the play was the Adult then making the long and high, while for children the shape and size, too short.

Stilts are made of bamboo rods with a length of approximately 2.5 meters. approximately 50 cm from the bottom, made a beachhead flat feet with a width of approximately 20 cm.

Stilts games can be categorized as children’s games. In general, this game was done by boys aged 7-13 years. Number of players 2-6 people.

egrang 3

The stilts game does not need a place (field) that specifically. It can be played anywhere, as long as on the ground. So, be on the beach, in the field or on the road. Tilako vast arena game is just along 7-15 meters and a width of about 3-4 meters.

The equipment used was a brick two bamboo sticks relatively straight and old with each length between 1.5-3 meters. How to make are as follows. At first bamboo is cut into two parts each of length about 2 ½ -3 feet. After that, another bamboo cut again into two parts with each measure about 20-30 cm to be used as a footrest. Furthermore, one segment of a length of bamboo hollowed bamboo insert sized for short. After a footrest attached to bamboo, bamboo is then ready for use.

egrang 2

Cultural values ​​inherent in the game stilts are: hard work, perseverance, and sportsmanship. The value of hard work reflected the spirit of the players are trying to be able to defeat his opponent. Ductility values ​​reflected in the creation of a tool that is used to run that require tenacity and perseverance to be balanced and easy to use for running. And, the value of sportsmanship is reflected not only the attitude of the players who do not cheat during the game, but also willing to accept defeat gracefully

to more know about EGRANG, you can visit this link http://www.youtube.com/watch?v=q-dGW7ApAm8

Surabaya, 4 Mei 2015

@nantodenanto https://smallhabibie.wordpress.com/ 

Berkebun di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

The glory of gardening: hands in the dirt, head in the sun, heart with nature. To nurture a garden is to feed not just the body, but the soul . 

Kegiatan berkebun tidak hanya memberi makan tubuh tetapi juga jiwa, kurang lebih seperti itu kata Alfred Austin, seorang penggiat gardening di Amerika Serikat. Aktivitas berkebun bagi masyarakat kota  mungkin merupakan hal yang terasa asing apalagi untuk mahasiswa teknik di Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang setiap harinya sering berkutat dengan mesin, elektronika, komputer maupun zat-zat kimia di laboratorium. ITS yang dikenal sebagai kampus besar, besar dari prestasinya maupun luasnya. Begitu luasnya, hingga ada banyak lahan kosong di ITS yang belum termanfaatkan dengan baik. Dan tentunya amat sayang jika dibiarkan “menganggur”.

Selain itu, ada banyak pemuda di negeri ini yang tidak mengenal dunia berkebun padahal perkebunan atau agraria adalah salah satu karakter bangsa indonesia. Yang menurut bung karno, sebagian besar masyarakat indonesia adalah kaum marhaen, kaum tani yang kondisinya sekarang semakin termarginalkan oleh sistem.

11

isu dimana semakin berkurangnya luas arel pertanian di Pulau Jawa juga semakin mengemuka belakangan ini. Dimana fakta menunjukkan 20 tahun yang lalu, Pulau Jawa ini 70% pedesaan 30% kota, sedangkan saat ini 60% kota dan 40% pedesaan (www.enciety.com). Percepatan pertumbuhan yang sangat luar biasa, sehingga konversi dari lahan pertanian ke non pertanian terlalu cepat. Dengan makin tumbuh dan bergesernya rural menjadi urban yang modern, tentu hal ini cukup “mengganggu” bagi ketahanan pangan di masa depan.

Kesadaran akan kebutuhan udara yang bersih, kenyamanan dalam lingkungan hidup makin membuat kegiatan berkebun diterima oleh banyak mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Kegiatan berkebun di lahan sempit yang lazim disebut urban farming meruapakan kegiatan pertanian yang dilakukan dengan memanfaatkan lahan sempit di perkotaan. Kegiatan urban farming mencakup kegiatan produksi, distribusi, hingga pemasaran produk-produk pertanian yang dihasilkan. Martin Bailkey, seorang dosen arsitektur landscape di Wisconson Madison, AS, mendefinisikan Urban Farming sebagai Rantai industri yang memproduksi, memproses dan menjual makanan dan energi untuk memenuhi kebutuhan konsumen kota. Semua kegiatan dilakukan dengan metoda using dan re-using sumber alam dan limbah perkotaan.

Sejarah Urban Farming

Urban agriculture sebagai cikal bakal urban farming sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, tepatnya di Machu Pichu di mana sampah-sampah rumah tangga dikumpulkan menjadi satu dan dijadikan pupuk. Air yang telah digunakan masyarakat dikumpulkan menjadi sumber pengairan melalui sistem drainase yang telah dirancang khusus oleh para arsitek kota di masa itu.

Pada Perang Dunia II di Amerika dicanangkan program “Victory Garden” yaitu membangun taman di sela-sela ruang yang tersisa. Program ini ini kemudian berkembang menjadi gerakan urban farming. Dari program tersebut pemerintah Amerika Serikat mampu menyediakan 40% kebutuhan pangan warganya pada waktu itu.

Perhatian akan manfaat Urban Agriculture menjadi berkembang ketika masyarakat di berbagai belahan dunia menyadari bahwa semakin hari pertumbuhan penduduk semakin besar dan kebutuhan akan makanan juga bertambah, sementara luas lahan pertanian semakin berkurang. Maka mulailah lahan-lahan kosong di daerah perkotaan dipakai sebagai tempat bercocok tanam. Mulai dari lahan satu meter persegi di depan rumah hingga atap-atap gedung-gedung pencakar langit, kini dimanfaatkan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan Urban Farming.

Urban farming selain mengasyikkan juga membantu memberikan kontribusi terhadap ruang terbuka hijau kota dan ketahanan pangan. Bisa di bayangkan jika setiap gedung mengadopsi kegiatan urban farming. ITS tentunya akan semakin hijau dan adem.

Urban Farming di Jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Beberapa minggu yang lalu, seusai kelas, saya melihat ada aktivitas yang tidak lazim di belakang kelas TL 102 yang dilakukan oleh mahasiswa teknik lingkungan. Ada beberapa mahasiswa yang sedang memegang cangkul, memegang sekop dan ada pula yang terengah-engah memindahkan tanah dari bawah pohon ke tempat itu. Ketika di tanya sedang ngapain? Mereka menjawab mau melakukan urban farming. Mendengar kata urban farming, saya langsung memutar memori otak. Dalam hati, ini bukannya program yang sedang digencarkan oleh walikota bandung, Ridwan Kamil dan bu Tri Risma Harini, walikota Surabaya? Tanpa banyak berfikir, saya tanya pada mereka yang kebetulan kawan saya semua, “boleh gabung kegiatan ini bro?” Salah satu dari mereka yang berambut kribo menjawab, “yo oleh lah bro, penggawean butuh massa akeh gae nglakokne, gae seneng-seneng pisan” (boleh, kegiatan ini butuh orang banyak  dan buat seneng-seneng juga red). Dengan senang hati mereka menerima saya bergabung dengan kegiatan ini.

12

Keesokkannya, saya menggali informasi lebih dalam tentang urban farming ini. Ternyata urban farming di Teknik Lingkungan ini adalah salah satu bagian ITS eco urban farming yang sedang digencarkan oleh BEM ITS. Urban farming ini juga dikompetisikan antar jurusan se-ITS. Semakin membuat saya bersemangat saja untuk mengikutinya. Urban farming di teknik lingkungan dilakukan oleh tim urban farming. Kegiatan dimulai dengan melakukan pengolahan tanah. Berbagai peralatan seperti cangkul, sekop dan sabit pun disiapkan. Tanah diolah sedemikian rupa. Kemudian berhubung tanah di belakang kelas TL 102 adalah bekas tanah urug yang tidak subur atau terlalu mengandung sedikit humus maka tanah ini dicampur dengan pupuk kompos dan tanah gembur yang dibeli dari toko kebun dekat Keputih. Lalu tanah dibiarkan selama dua hari agar bakteri yang ada di dalam kompos bisa bekerja dan menyebar untuk memperbaiki kesuburan tanah. Ketika lahan sudah dirasa siap ditanami, maka bibit tanaman yang telah disemai sebelumnya di tempat lain, dipindahkan ke lahan. Kemudian disiram dengan air. Terakhir, melakukan perawatan dan penyiraman air setiap harinya hingga suatu saat tanaman siap untuk dipanen. Dan step terakhir ini yang membutuhkan ketekunan dan komitmen. Tetapi so far, kegiatan berkebun ini amat menyenangkan sekaligus dapat mengasah SOB (sense of belonging) dan berbagi ilmu mengenai kegiatan berkebun.

13

Urban farming di jurusan Teknik Lingkungan juga akan terus dikembangkan. Rencananya akan dilakukan vertikultur yakni berupa pola bercocok tanam yang menggunakan wadah tanam vertikal. Bisa dengan memanfaatkan paralon bekas maupun botol-botol air mineral bekas yang ada di botle bin TL. Selain itu, juga akan dilakukan riset kecil-kecilan untuk membuat alat penyiram otomatis sehingga nantinya tim tidak perlu menyiram setiap hari. Semoga bisa terlaksana

Manfaat Urban Farming

Semenjak kegiatan urban farming ini diluncurkan, ada banyak mahasiswa yang sangat antusias dengan urban farming, namun tidak sedikit yang masih beranggapan urban farming adalah kegiatan yang membuang waktu. “Untuk apa melakukan urban farming, toh tinggal beli sayuran di pasar sudah bisa, ngapain capek-capek menanam sendiri?” kurang lebih seperti itu mungkin kata mereka. Namun disadari atau tidak, ada banyak manfaat yang bisa didapat dari urban farming yang bisa membuat anda berfikir ulang jika tidak melakukan urban farming J Beberapa manfaat tersebut antara lain :

Pertama, lahan semakin produktif dan subur. Dengan adanya urban farming, lahan yang tadinya tidak terurus, tidak terpakai menjadi terolah dengan baik. Ada pemupukan yang bisa menambah kesuburan tanah. Selain itu, sisa-sisa tanaman setelah dipanen ataupun daun-daun tanaman yang jatuh juga bisa menjadi humus penyubur tanah.

Kedua, memenuhi kebutuhan pangan. Dampak yang terasa adalah saat kita sudah bisa memanen sayuran atau tanaman yang kita tanam. Dengan sayuran ini, kita tak perlu membeli sayuran dari pasar, bisa pula dimasak bareng satu angkatan ataupun satu himpunan. Bisa mempererat satu angkatan kan? J

Ketiga, memacu kreatifitas.  Urban farming dikenal sebagai berkebun di  lahan yang sempit maka oleh karena itu kita dituntut untuk kreatif mengembangkannya. Sebagai contoh hal kreatif yang bisa dilakukan adalah dengan vertikultur (pertanian bertingkat) bisa meningkatkan jumlah tanaman yang di tanaman, dengan tambulampot (tanaman buah dalam pot) atau ketika kita yang sebagai mahasiswa terbiasa disibukkan dengan aktivitas perkuliahan maupun organisasi, dapat membuat alat penyiram otomatis sehingga tak perlu menyiram tanaman setiap harinya.

Keempat, menyegarkan udara di sekitar kita sekaligus mengurangi laju pemanasan global. Seperti kita ketahui bahwa global warming bukan lagi sekedar isu, itu sudah sedikit demi sedikit terjadi . Peningkatan tinggi muka laut yang terjadi di pantai jakarta adalah salah satu contohnya. Dengan urbang warming, maka kita mungkin melakukan hal kecil tapi berdampak besar. Think Globally, act homely.

Kelima, sebagai terapi jiwa dan mengurangi kadar stres. Stres sudah menjadi bagian dari keseharian kaum urban atau masyarakat kota, apalagi mahasiswa entah stres karena aktivitas rutin, aktivitas organisasi himpunan bem ukm yang padat, stres dengan tugas-tugas kuliah (ex. tugas besar :p )  yang menyebabkan penurunan kualitas hidup.  Bersumber dari  www.realfarmacy.com, para peneliti melaporkan dalam jurnal Neuroscience bahwa kontak dengan bakteri tanah Mycobacterium vaccae yang disebut memicu pelepasan serotonin di otak . Jenisserotonin bekerja pada beberapa jalur yang berbeda termasuk suasana hati dan belajar . Kurangnya serotonin di otak yang berhubungan dengan depresi . Jadi pada dasarnya , hal yang dilakukan sebagai tukang kebun pada urban farming dengan mengolah tanah , penanaman , mulsa , dan sebagainya – dapat benar-benar berkontribusi terhadap kebahagiaan. Di samping meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi kecemasan, serotonin memiliki efek positif pada memori dan belajar. Penelitian yang dipresentasikan di American Society for Microbiologymenunjukkan bahwa tikus yang memakan bakteri M. vaccae secara signifikan meningkatkan kemampuan mereka untuk menavigasi labirin , karena fakta bahwa bakteri memicu pelepasan serotonin otak. Tampaknya bakteri ini berperan dalam belajar pada mamalia . Selain itu riset yang lain juga menunjukkan bahwa warna hijau pada tumbuhan dan hewan , pohon-pohon bergoyang dalam angin , kicauan burung,  udara segar baik  visual maupun rangsangan juga dapat meningkatkan kerja otak.

ketujuh, tempat  belajar  bersama dan sarana  berbagi. Kita menyadari bahwa tidak semua dari teman-teman paham dan pernah terjun dalam dunia berkebun. Lewat kegiatan urban farming ini, kita bisa belajar, berbagi pengalaman  dan  informasi  mengenai dunia berkebun dengan sesama teman. Pada akhirnya semua bisa memiliki ketrampilan berkebun dan mempraktekkannya di rumah masing-masing J

Mulai sekarang, melihat banyak manfaat dari berkebun atau urban farming, ayo kembangkan dan gencarkan kegiatan ini seperti potongan bait lagu semasa kanak-kanak  Ayo kawan kita berkebun… menanam jagung di kebun kita… Ambil cangkulmu…

Surabaya, 16 Desember 2014 @nantodenanto

14

15

Welcome Party Kementrian Energi Maritim BEM ITS

“ . . . Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing

diktat-diktat hanya boleh memberi metode

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan

kita mesti keluar ke jalan raya

keluar ke desa-desa

mencatat sendiri semua gejala

dan menghayati persoalan yang nyata .. . ”

(Rendra 1978, SajakSebatang Lisong)

Sore tadi, saya dan teman-teman berkunjung ke desa nelayan.Katanya mereka sedang tidak melaut karena laut sedang surut. Angin sedangbertiup dari barat ke timur, angin baratan kata mereka. Ketika angin barat,jumlah ikan yang bisa mereka tangkap sangat sedikit jumlahnya. Berbeda ketikaangin timuran, yang berhembus dari australia di selatan ke arah malaka dan lautcina selatan, di barat. Angin ini membawa banyak sekali ikan, sehingga merekabiasanya bisa ‘panen’ di bulan-bulan timuran. Bulan timuran terjadi di bulan 5 hingga 10, mereka bisa dapat ikan banyak, sekali melaut satu orang nelayan bisamendapat hingga satu kuintal ikan, angka ini bisa dibilang cukup besar melihatalat tangkap mereka yang sederhana dan perahu-perahu mereka yg sudah tua dan tradisional.

10872568_522235841253044_1477666755_n

Selain kakek yang bercerita, aku pun mencoba memberanikandiri untuk bertanya agar obrolan bisa menjadi dua arah dan lebih asik.

“kek, gmana hasil tangkapan ikan di zaman duludibandingkan zaman sekarang?” tanyaku

“beda nak, sangat beda. sekarang sudah semakin sedikit.tidak seperti dulu. Kalau dulu, gak perlu melaut sampai jauh, cukup sekitarsini saja sudah dapat banyak ikan. Sekarang? harus melaut dulu sampai jauh disana (sambil menunjuk ke arah laut), baru bisa dapat ikan. Sekarang sekitar sini, airnya sudah semakin tidak bagus nak, air yang berasal dari sungai itusudah tercemar bahan-bahan kimia. Telur-telur ikan kena racun sehingga tak bisa menetas. Kepiting dan udang pun sangat susah dicari sekarang” kakek merinci jelas jawabannya

Kakek melanjutkan ceritanya, “dan di sebelah situ nak(sambil menunjuk), coba kamu lihat. Ada pohon-pohon bakau. Kakek senang melihatnya. Beberapa tahun yang lalu ada sekelompok mahasiswa yang menanam disitu. Sekarang sudah lumayan hijau di sekitar sini. Karena bakau itu nak, air laut bisa tertahan di akar-akarnya sehingga gak sampai masuk ke rumah-rumah. Beberapa jenis kepiting dan udang bisa kami temui juga di sekitar bakau”

Dalam hati, aku sangat senang mendengar penjelasan kakek. Bahwa ada mahasiswa-mahasiswa di kala sibuknya tugas masih menyempatkan diri untuk melakukan penghijauan. Dan hal ini semakin memotivasi diri bahwa hal yang dilakukan oleh mahasiswa (penghijauan) selama ini tidak sia-sia, manfaatnyasudah dirasakan oleh masyarakat. “Tanaman bakau ini harus diperbanyak!” kataku dalam hati

10893899_522230717920223_1125041479_n

Kakek juga bercerita hal lain yang dialaminya kini. Kali inidia bercerita sangat serius. Ini mengenai pendangkalan, iya pendangkalan laut.

“nak, kalau kakek pergi ke pantai. Dulu itu tingginya bisasampai setinggi paha. Dulu itu sangat dalam nak. Sangat mudah melayarkan perahudan mencari ikan sekitar pantai. Tapi saat ini, laut sudah semakin dangkal. Laut sudah berkurang luasnya” kata kakek

Lalu bapak-bapak yang disebelahnya ikut nimbrung dan mengiyakan, “iyaa mas, itu betul mas. Saya sekarang kalau melaut itu harus sampai ke tengah dulu baru dapet ikan.  Lautsudah semakin dangkal. Mas samean tahu, itu itu saya kalau nyari ikan itu disekitar damen, itu daerah tempat nyari ikan kelompok saya. Satu kelompok ada 9orang mas, kebetulan saya ketua kelompoknya. Sekarang mas, disekitar situ adapatok-patok. Setelah saya selidiki itu patok milik PT XX . Patok itu katanyatanda kalau itu nanti bakal ada pengurugan pantai di sekitar situ. Mas inigimana mas, padahal itu adalah tempat saya dan teman-teman saya nyari ikan,nyari makan untuk keluarga. Laut itu bukannya daerah bebas, milik negara, siapa saja boleh mengambil ikan disitu. Lah ini kalau dikasih patok gmana? Kog diklaim sebagai wilayahnya dan akan diurug?”

“Owh gitu pak, hmm . . .” sambil berpikir, saya mencoba menyimak terlebih dahulu, tanpa banyak menanggapi. Tak ingin mengganggu beliau yg sedang bersemangat bercerita.

Bapaknya  lalu melanjutkan penjelasannya, “mas ini terakhir dari saya, tolonglah orang kecil kayak kita ini dibantu. Tolong disuarakan keluhan saya tadi kepada pemerintah dan pihak terkait. Saya dan teman-teman sudah ke kantor desa  tapi tidak menghasilkan apa-apa karena tidak cukup bukti kata petugas desa. Mahasiswa kan bagian dari masyarakat katanya. Mahasiswa itu harus berani bicara kebenaran. Suara mahasiswa itu suara rakyat. Kalau mahasiswa saja tidak berani mengatakan kebenaran, ya sudahlah! kita-kita ini bisa apa… “

10917500_522230707920224_30097351_n

“Jadi seperti ini pak masalahnya, Insyaallah keluhan bapak ini akan coba kami kaji terlebih dahulu dengan teman-teman kami di kampus. Karena hal ini melibatkan banyak keilmuandan literature. Barangkali nanti kajian kami bisa membantu. Insyaallah kalau tidak ada aral melintang kami akan main kesini lagi. Terima kasih pak sebelumnya, sudah mau menerima kami disini, dan mau berbagi cerita bersama kami “ jawab saya

. .. Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan

(Rendra, Sajak Sebatang lisong)

“iyaa mas sama-sama. Saya senang kalau ada mahasiswa yang mau main kesini dan melihat kondisi kami. Kapan-kapan kalau mau, saya mau mengajak teman-teman ininaik perahu, melihat tempat kami mencari ikan. Kalau sekarang belum bisa karena cuacanya gak bagus” kata bapak itu.

“waa, bagus itu pak. Boleh2. Kebetulan salah seorang teman kami adalah seorang pelaut asalnya dari kalimantan”

lalu semua orang  menoleh pada seorang lelaki dan si lelaki ini akhirnya salah tingkah lalu berkata, “ahh kau ini nan!” hahaha

Itu tadi sepotong cerita perjalanan welcome party kami, kementrian energy dan maritime BEM ITS di sebuah desa nelayan. Ada banyak hal yang kami dapatkan disana dan ada banyak  PR pula yang harus kami kerjakan. Pesta kami kali ini barangkali cukup sederhana, hanya berbekal nasi tumpeng dan aqua gelas. Jauh dari kesan mewah seperti welcome party yang biasa dilakukan di restoran maupun hotel.  Dengan alas tikar sederhana yang digabung dengan potongan spanduk bekas kami duduk bersila bersama-sama dengan para nelayan.Tanpa ada sekat, tanpa ada batas, mengobrol, bercerita, berdiskusi dan makan bersama dengan mereka, menyadarkan kami bahwa kami sebenarnya sama dengan mereka. Kami adalahbagian dari mereka, masyarakat. Hanya bedanya, kami lebih beruntung karena Tuhan memberi kesempatan pada kami untuk mendapat pendidikan lebih. Tentu pendidikan yang kami dapat ini, bukan suatu hal yang main-main. Ini (pendidikan) adalah amanah, amanah dari masyarakat untuk membuat bangsa dan negara ini jauh lebih baik dan lebih maju dari sebelumnya.

Dibuka dengan doa yang dipimpin oleh sesepuh setempat. Berdoa semoga kementrian energy maritime ini bisa mengemban amanah kepengurusan dengan baik, bisa berguna untuk diri sendiri, orang tua, untuk almamater ITS, untuk masyarakat, agama, bangsa dan Negara. Berdoa semoga kehidupan nelayan disini bisa jauh lebih sejahtera dari sebelumnya. Dan berdoa semoga pemimpin2 bangsa ini diberikan kemudahan untuk melaksanakantugas Negara, lebih mengayomi masyarakat dan semoga bisa membuat bangsa ini jauh lebih baik, lebih adil makmur tentrem kertoraharjo

Diakhiri dengan diskusi, dan motivasi. Lalu mereka mengantar kami berjalan hingga ke ujung gang. Dan dengan melambaikan tangan para nelayan melepas kami. Mereka sangat ramah dalam ingatan kami.

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalanraya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
Rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri”

(Taufik Ismail, sajak KerendahanHati)

10928155_522228134587148_1706170066_n

BEM ITS Bahas Polemik Tol Laut

Polemik tol laut yang saat ini masih menjadi pertanyaan berbagai kalangan mendorong Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS untuk mengadakan kajian, Senin (27/4). Kajian ini bertujuan untuk mengklarifikasi berbagai anggapan mengenai tol laut yang saat ini ‘berkembang baik’ di kalangan media maupun pemerintah.

Menurut Direktur Jenderal Kemaritiman BEM ITS, Satria Jaya Negara, saat ini perkembangan konsep tol laut yang diusung Jokowi masih abu-abu. Pasalnya, banyak pihak yang memiliki pandangan berbeda mengenai perkembangan tol laut ini. “Ada yang menyatakan tol laut saat ini mengalami perkembangan, tapi ada juga yang bilang tidak jalan sama sekali,” tegasnya kepada ITS Online.

Untuk itulah, menurut Satria, kajian ini sangat diperlukan demi meluruskan pandangan mahasiswa atas berbagai isu terkait tol laut ini. Ia juga mengungkapkan sebenarnya kajian ini merupakan kelanjutan dari kajian serupa yang pernah diadakan Himpunan Jurusan Teknik Sistem Perkapalan (Himasiskal) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan (Himatekpal). “Jangan sampai tol laut ini hanya dimengerti oleh mahasiswa Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) saja. Mahasiswa jurusan lain juga patut tahu,” terangnya.

Imran Ibnu Fajri, Presiden BEM ITS, mengungkapkan dalam kajian ini seharusnya tidak lagi dibahas mengenai penolakan maupun persetujuan atas konsep tol laut. Hal ini ia ungkapkan karena menurutnya saat ini konsep tol laut sudah berjalan. “Sekarang tinggal bagaimana kita mengawal kebijakan pemerintah agar sesuai dengan konsep tol laut yang direncanakan dari awal,” ujarnya kepada peserta.

Salah satu contoh kebijakan pemerintah yang patut dikaji menurut Fajri adalah mengenai pembelian kapal buatan Tiongkok sebanyak 1500 buah. Sebagai mahasiswa FTK, ia menilai sebenarnya kebijakan ini sangat merugikan industri galangan kapal di Indonesia. Hal ini karena kapal merupakan barang yang bisa dipakai hingga puluhan tahun. “Kalau kita mengimpor 1500, artinya kapal-kapal buatan Indonesia dipastikan tidak laku hingga puluhan tahun mendatang,” terang mahasiswa asal Jakarta ini.

Tak hanya Fajri, dalam kajian ini juga terdapat banyak usulan dari beberapa mahasiswa dalam pengembangan konsep tol laut ini. Misalnya saja masukan dari  Rahman Ernanto Putera, Ketua Departemen Kajian Strategis Himatekpal. Menurutnya, salah satu usaha yang bisa dilakukan pemerintah dalam mendukung konsep tol laut adalah dengan memperluas lahan khusus industri maritim.

Dikatakannya, saat ini PT PAL Indonesia masih memiliki lahan yang kurang memadai untuk melakukan produksi kapal dalam jumlah besar. Oleh karena itu, lanjutnya, Indonesia seharusnya belajar dari Korea Selatan yang telah berhasil memiliki lahan khusus industri kemaritiman. “Di lahan tersebut, seluruh industri kapal dikumpulkan sehingga mereka tidak perlu impor bahan-bahan pembuatan kapal lagi,” ujarnya.

Tak hanya Rahman, beberapa mahasiswa lain juga turut menyumbangkan aspirasi mereka dalam mendukung kebijakan pemerintah ini. Meski demikian, sempat terjadi perdebatan dalam kajian ini mengenai perbedaan konsep tol laut dan pendulum nusantara yang telah diinisasi sebelumnya oleh PT Pelabuhan Indonesia (PELINDO).

Karenanya, Sunanto, Menteri Energi dan Maritim BEM ITS sangat mengapresiasi antusias mahasiswa ITS dalam membahas isu ini. Ia menjelaskan hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa ITS masih peduli dengan isu-isu bangsa. “Dengan demikian, semua jurusan yang ada di ITS bisa turut memberikan rekomendasi kepada pemerintah terkait pembangunan kemaritiman ini,” ujarnya.

Meski demikian, mahasiswa yang akrab disapa Nanto ini menilai beberapa bahasan mengenai tol laut tidak bisa diselesaikan dalam satu kali kajian. Oleh karena itu, pihaknya berencana mengadakan kajian-kajian selanjutnya. “Kalau bisa kami juga ingin menghadirkan perwakilan dari instansi terkait seperti PT PAL,” pungkasnya. (pus/man)

sumber berita : https://www.its.ac.id/berita/14990/en