Berkebun di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

The glory of gardening: hands in the dirt, head in the sun, heart with nature. To nurture a garden is to feed not just the body, but the soul . 

Kegiatan berkebun tidak hanya memberi makan tubuh tetapi juga jiwa, kurang lebih seperti itu kata Alfred Austin, seorang penggiat gardening di Amerika Serikat. Aktivitas berkebun bagi masyarakat kota  mungkin merupakan hal yang terasa asing apalagi untuk mahasiswa teknik di Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang setiap harinya sering berkutat dengan mesin, elektronika, komputer maupun zat-zat kimia di laboratorium. ITS yang dikenal sebagai kampus besar, besar dari prestasinya maupun luasnya. Begitu luasnya, hingga ada banyak lahan kosong di ITS yang belum termanfaatkan dengan baik. Dan tentunya amat sayang jika dibiarkan “menganggur”.

Selain itu, ada banyak pemuda di negeri ini yang tidak mengenal dunia berkebun padahal perkebunan atau agraria adalah salah satu karakter bangsa indonesia. Yang menurut bung karno, sebagian besar masyarakat indonesia adalah kaum marhaen, kaum tani yang kondisinya sekarang semakin termarginalkan oleh sistem.

11

isu dimana semakin berkurangnya luas arel pertanian di Pulau Jawa juga semakin mengemuka belakangan ini. Dimana fakta menunjukkan 20 tahun yang lalu, Pulau Jawa ini 70% pedesaan 30% kota, sedangkan saat ini 60% kota dan 40% pedesaan (www.enciety.com). Percepatan pertumbuhan yang sangat luar biasa, sehingga konversi dari lahan pertanian ke non pertanian terlalu cepat. Dengan makin tumbuh dan bergesernya rural menjadi urban yang modern, tentu hal ini cukup “mengganggu” bagi ketahanan pangan di masa depan.

Kesadaran akan kebutuhan udara yang bersih, kenyamanan dalam lingkungan hidup makin membuat kegiatan berkebun diterima oleh banyak mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Kegiatan berkebun di lahan sempit yang lazim disebut urban farming meruapakan kegiatan pertanian yang dilakukan dengan memanfaatkan lahan sempit di perkotaan. Kegiatan urban farming mencakup kegiatan produksi, distribusi, hingga pemasaran produk-produk pertanian yang dihasilkan. Martin Bailkey, seorang dosen arsitektur landscape di Wisconson Madison, AS, mendefinisikan Urban Farming sebagai Rantai industri yang memproduksi, memproses dan menjual makanan dan energi untuk memenuhi kebutuhan konsumen kota. Semua kegiatan dilakukan dengan metoda using dan re-using sumber alam dan limbah perkotaan.

Sejarah Urban Farming

Urban agriculture sebagai cikal bakal urban farming sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, tepatnya di Machu Pichu di mana sampah-sampah rumah tangga dikumpulkan menjadi satu dan dijadikan pupuk. Air yang telah digunakan masyarakat dikumpulkan menjadi sumber pengairan melalui sistem drainase yang telah dirancang khusus oleh para arsitek kota di masa itu.

Pada Perang Dunia II di Amerika dicanangkan program “Victory Garden” yaitu membangun taman di sela-sela ruang yang tersisa. Program ini ini kemudian berkembang menjadi gerakan urban farming. Dari program tersebut pemerintah Amerika Serikat mampu menyediakan 40% kebutuhan pangan warganya pada waktu itu.

Perhatian akan manfaat Urban Agriculture menjadi berkembang ketika masyarakat di berbagai belahan dunia menyadari bahwa semakin hari pertumbuhan penduduk semakin besar dan kebutuhan akan makanan juga bertambah, sementara luas lahan pertanian semakin berkurang. Maka mulailah lahan-lahan kosong di daerah perkotaan dipakai sebagai tempat bercocok tanam. Mulai dari lahan satu meter persegi di depan rumah hingga atap-atap gedung-gedung pencakar langit, kini dimanfaatkan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan Urban Farming.

Urban farming selain mengasyikkan juga membantu memberikan kontribusi terhadap ruang terbuka hijau kota dan ketahanan pangan. Bisa di bayangkan jika setiap gedung mengadopsi kegiatan urban farming. ITS tentunya akan semakin hijau dan adem.

Urban Farming di Jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Beberapa minggu yang lalu, seusai kelas, saya melihat ada aktivitas yang tidak lazim di belakang kelas TL 102 yang dilakukan oleh mahasiswa teknik lingkungan. Ada beberapa mahasiswa yang sedang memegang cangkul, memegang sekop dan ada pula yang terengah-engah memindahkan tanah dari bawah pohon ke tempat itu. Ketika di tanya sedang ngapain? Mereka menjawab mau melakukan urban farming. Mendengar kata urban farming, saya langsung memutar memori otak. Dalam hati, ini bukannya program yang sedang digencarkan oleh walikota bandung, Ridwan Kamil dan bu Tri Risma Harini, walikota Surabaya? Tanpa banyak berfikir, saya tanya pada mereka yang kebetulan kawan saya semua, “boleh gabung kegiatan ini bro?” Salah satu dari mereka yang berambut kribo menjawab, “yo oleh lah bro, penggawean butuh massa akeh gae nglakokne, gae seneng-seneng pisan” (boleh, kegiatan ini butuh orang banyak  dan buat seneng-seneng juga red). Dengan senang hati mereka menerima saya bergabung dengan kegiatan ini.

12

Keesokkannya, saya menggali informasi lebih dalam tentang urban farming ini. Ternyata urban farming di Teknik Lingkungan ini adalah salah satu bagian ITS eco urban farming yang sedang digencarkan oleh BEM ITS. Urban farming ini juga dikompetisikan antar jurusan se-ITS. Semakin membuat saya bersemangat saja untuk mengikutinya. Urban farming di teknik lingkungan dilakukan oleh tim urban farming. Kegiatan dimulai dengan melakukan pengolahan tanah. Berbagai peralatan seperti cangkul, sekop dan sabit pun disiapkan. Tanah diolah sedemikian rupa. Kemudian berhubung tanah di belakang kelas TL 102 adalah bekas tanah urug yang tidak subur atau terlalu mengandung sedikit humus maka tanah ini dicampur dengan pupuk kompos dan tanah gembur yang dibeli dari toko kebun dekat Keputih. Lalu tanah dibiarkan selama dua hari agar bakteri yang ada di dalam kompos bisa bekerja dan menyebar untuk memperbaiki kesuburan tanah. Ketika lahan sudah dirasa siap ditanami, maka bibit tanaman yang telah disemai sebelumnya di tempat lain, dipindahkan ke lahan. Kemudian disiram dengan air. Terakhir, melakukan perawatan dan penyiraman air setiap harinya hingga suatu saat tanaman siap untuk dipanen. Dan step terakhir ini yang membutuhkan ketekunan dan komitmen. Tetapi so far, kegiatan berkebun ini amat menyenangkan sekaligus dapat mengasah SOB (sense of belonging) dan berbagi ilmu mengenai kegiatan berkebun.

13

Urban farming di jurusan Teknik Lingkungan juga akan terus dikembangkan. Rencananya akan dilakukan vertikultur yakni berupa pola bercocok tanam yang menggunakan wadah tanam vertikal. Bisa dengan memanfaatkan paralon bekas maupun botol-botol air mineral bekas yang ada di botle bin TL. Selain itu, juga akan dilakukan riset kecil-kecilan untuk membuat alat penyiram otomatis sehingga nantinya tim tidak perlu menyiram setiap hari. Semoga bisa terlaksana

Manfaat Urban Farming

Semenjak kegiatan urban farming ini diluncurkan, ada banyak mahasiswa yang sangat antusias dengan urban farming, namun tidak sedikit yang masih beranggapan urban farming adalah kegiatan yang membuang waktu. “Untuk apa melakukan urban farming, toh tinggal beli sayuran di pasar sudah bisa, ngapain capek-capek menanam sendiri?” kurang lebih seperti itu mungkin kata mereka. Namun disadari atau tidak, ada banyak manfaat yang bisa didapat dari urban farming yang bisa membuat anda berfikir ulang jika tidak melakukan urban farming J Beberapa manfaat tersebut antara lain :

Pertama, lahan semakin produktif dan subur. Dengan adanya urban farming, lahan yang tadinya tidak terurus, tidak terpakai menjadi terolah dengan baik. Ada pemupukan yang bisa menambah kesuburan tanah. Selain itu, sisa-sisa tanaman setelah dipanen ataupun daun-daun tanaman yang jatuh juga bisa menjadi humus penyubur tanah.

Kedua, memenuhi kebutuhan pangan. Dampak yang terasa adalah saat kita sudah bisa memanen sayuran atau tanaman yang kita tanam. Dengan sayuran ini, kita tak perlu membeli sayuran dari pasar, bisa pula dimasak bareng satu angkatan ataupun satu himpunan. Bisa mempererat satu angkatan kan? J

Ketiga, memacu kreatifitas.  Urban farming dikenal sebagai berkebun di  lahan yang sempit maka oleh karena itu kita dituntut untuk kreatif mengembangkannya. Sebagai contoh hal kreatif yang bisa dilakukan adalah dengan vertikultur (pertanian bertingkat) bisa meningkatkan jumlah tanaman yang di tanaman, dengan tambulampot (tanaman buah dalam pot) atau ketika kita yang sebagai mahasiswa terbiasa disibukkan dengan aktivitas perkuliahan maupun organisasi, dapat membuat alat penyiram otomatis sehingga tak perlu menyiram tanaman setiap harinya.

Keempat, menyegarkan udara di sekitar kita sekaligus mengurangi laju pemanasan global. Seperti kita ketahui bahwa global warming bukan lagi sekedar isu, itu sudah sedikit demi sedikit terjadi . Peningkatan tinggi muka laut yang terjadi di pantai jakarta adalah salah satu contohnya. Dengan urbang warming, maka kita mungkin melakukan hal kecil tapi berdampak besar. Think Globally, act homely.

Kelima, sebagai terapi jiwa dan mengurangi kadar stres. Stres sudah menjadi bagian dari keseharian kaum urban atau masyarakat kota, apalagi mahasiswa entah stres karena aktivitas rutin, aktivitas organisasi himpunan bem ukm yang padat, stres dengan tugas-tugas kuliah (ex. tugas besar :p )  yang menyebabkan penurunan kualitas hidup.  Bersumber dari  www.realfarmacy.com, para peneliti melaporkan dalam jurnal Neuroscience bahwa kontak dengan bakteri tanah Mycobacterium vaccae yang disebut memicu pelepasan serotonin di otak . Jenisserotonin bekerja pada beberapa jalur yang berbeda termasuk suasana hati dan belajar . Kurangnya serotonin di otak yang berhubungan dengan depresi . Jadi pada dasarnya , hal yang dilakukan sebagai tukang kebun pada urban farming dengan mengolah tanah , penanaman , mulsa , dan sebagainya – dapat benar-benar berkontribusi terhadap kebahagiaan. Di samping meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi kecemasan, serotonin memiliki efek positif pada memori dan belajar. Penelitian yang dipresentasikan di American Society for Microbiologymenunjukkan bahwa tikus yang memakan bakteri M. vaccae secara signifikan meningkatkan kemampuan mereka untuk menavigasi labirin , karena fakta bahwa bakteri memicu pelepasan serotonin otak. Tampaknya bakteri ini berperan dalam belajar pada mamalia . Selain itu riset yang lain juga menunjukkan bahwa warna hijau pada tumbuhan dan hewan , pohon-pohon bergoyang dalam angin , kicauan burung,  udara segar baik  visual maupun rangsangan juga dapat meningkatkan kerja otak.

ketujuh, tempat  belajar  bersama dan sarana  berbagi. Kita menyadari bahwa tidak semua dari teman-teman paham dan pernah terjun dalam dunia berkebun. Lewat kegiatan urban farming ini, kita bisa belajar, berbagi pengalaman  dan  informasi  mengenai dunia berkebun dengan sesama teman. Pada akhirnya semua bisa memiliki ketrampilan berkebun dan mempraktekkannya di rumah masing-masing J

Mulai sekarang, melihat banyak manfaat dari berkebun atau urban farming, ayo kembangkan dan gencarkan kegiatan ini seperti potongan bait lagu semasa kanak-kanak  Ayo kawan kita berkebun… menanam jagung di kebun kita… Ambil cangkulmu…

Surabaya, 16 Desember 2014 @nantodenanto

14

15

Welcome Party Kementrian Energi Maritim BEM ITS

“ . . . Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing

diktat-diktat hanya boleh memberi metode

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan

kita mesti keluar ke jalan raya

keluar ke desa-desa

mencatat sendiri semua gejala

dan menghayati persoalan yang nyata .. . ”

(Rendra 1978, SajakSebatang Lisong)

Sore tadi, saya dan teman-teman berkunjung ke desa nelayan.Katanya mereka sedang tidak melaut karena laut sedang surut. Angin sedangbertiup dari barat ke timur, angin baratan kata mereka. Ketika angin barat,jumlah ikan yang bisa mereka tangkap sangat sedikit jumlahnya. Berbeda ketikaangin timuran, yang berhembus dari australia di selatan ke arah malaka dan lautcina selatan, di barat. Angin ini membawa banyak sekali ikan, sehingga merekabiasanya bisa ‘panen’ di bulan-bulan timuran. Bulan timuran terjadi di bulan 5 hingga 10, mereka bisa dapat ikan banyak, sekali melaut satu orang nelayan bisamendapat hingga satu kuintal ikan, angka ini bisa dibilang cukup besar melihatalat tangkap mereka yang sederhana dan perahu-perahu mereka yg sudah tua dan tradisional.

10872568_522235841253044_1477666755_n

Selain kakek yang bercerita, aku pun mencoba memberanikandiri untuk bertanya agar obrolan bisa menjadi dua arah dan lebih asik.

“kek, gmana hasil tangkapan ikan di zaman duludibandingkan zaman sekarang?” tanyaku

“beda nak, sangat beda. sekarang sudah semakin sedikit.tidak seperti dulu. Kalau dulu, gak perlu melaut sampai jauh, cukup sekitarsini saja sudah dapat banyak ikan. Sekarang? harus melaut dulu sampai jauh disana (sambil menunjuk ke arah laut), baru bisa dapat ikan. Sekarang sekitar sini, airnya sudah semakin tidak bagus nak, air yang berasal dari sungai itusudah tercemar bahan-bahan kimia. Telur-telur ikan kena racun sehingga tak bisa menetas. Kepiting dan udang pun sangat susah dicari sekarang” kakek merinci jelas jawabannya

Kakek melanjutkan ceritanya, “dan di sebelah situ nak(sambil menunjuk), coba kamu lihat. Ada pohon-pohon bakau. Kakek senang melihatnya. Beberapa tahun yang lalu ada sekelompok mahasiswa yang menanam disitu. Sekarang sudah lumayan hijau di sekitar sini. Karena bakau itu nak, air laut bisa tertahan di akar-akarnya sehingga gak sampai masuk ke rumah-rumah. Beberapa jenis kepiting dan udang bisa kami temui juga di sekitar bakau”

Dalam hati, aku sangat senang mendengar penjelasan kakek. Bahwa ada mahasiswa-mahasiswa di kala sibuknya tugas masih menyempatkan diri untuk melakukan penghijauan. Dan hal ini semakin memotivasi diri bahwa hal yang dilakukan oleh mahasiswa (penghijauan) selama ini tidak sia-sia, manfaatnyasudah dirasakan oleh masyarakat. “Tanaman bakau ini harus diperbanyak!” kataku dalam hati

10893899_522230717920223_1125041479_n

Kakek juga bercerita hal lain yang dialaminya kini. Kali inidia bercerita sangat serius. Ini mengenai pendangkalan, iya pendangkalan laut.

“nak, kalau kakek pergi ke pantai. Dulu itu tingginya bisasampai setinggi paha. Dulu itu sangat dalam nak. Sangat mudah melayarkan perahudan mencari ikan sekitar pantai. Tapi saat ini, laut sudah semakin dangkal. Laut sudah berkurang luasnya” kata kakek

Lalu bapak-bapak yang disebelahnya ikut nimbrung dan mengiyakan, “iyaa mas, itu betul mas. Saya sekarang kalau melaut itu harus sampai ke tengah dulu baru dapet ikan.  Lautsudah semakin dangkal. Mas samean tahu, itu itu saya kalau nyari ikan itu disekitar damen, itu daerah tempat nyari ikan kelompok saya. Satu kelompok ada 9orang mas, kebetulan saya ketua kelompoknya. Sekarang mas, disekitar situ adapatok-patok. Setelah saya selidiki itu patok milik PT XX . Patok itu katanyatanda kalau itu nanti bakal ada pengurugan pantai di sekitar situ. Mas inigimana mas, padahal itu adalah tempat saya dan teman-teman saya nyari ikan,nyari makan untuk keluarga. Laut itu bukannya daerah bebas, milik negara, siapa saja boleh mengambil ikan disitu. Lah ini kalau dikasih patok gmana? Kog diklaim sebagai wilayahnya dan akan diurug?”

“Owh gitu pak, hmm . . .” sambil berpikir, saya mencoba menyimak terlebih dahulu, tanpa banyak menanggapi. Tak ingin mengganggu beliau yg sedang bersemangat bercerita.

Bapaknya  lalu melanjutkan penjelasannya, “mas ini terakhir dari saya, tolonglah orang kecil kayak kita ini dibantu. Tolong disuarakan keluhan saya tadi kepada pemerintah dan pihak terkait. Saya dan teman-teman sudah ke kantor desa  tapi tidak menghasilkan apa-apa karena tidak cukup bukti kata petugas desa. Mahasiswa kan bagian dari masyarakat katanya. Mahasiswa itu harus berani bicara kebenaran. Suara mahasiswa itu suara rakyat. Kalau mahasiswa saja tidak berani mengatakan kebenaran, ya sudahlah! kita-kita ini bisa apa… “

10917500_522230707920224_30097351_n

“Jadi seperti ini pak masalahnya, Insyaallah keluhan bapak ini akan coba kami kaji terlebih dahulu dengan teman-teman kami di kampus. Karena hal ini melibatkan banyak keilmuandan literature. Barangkali nanti kajian kami bisa membantu. Insyaallah kalau tidak ada aral melintang kami akan main kesini lagi. Terima kasih pak sebelumnya, sudah mau menerima kami disini, dan mau berbagi cerita bersama kami “ jawab saya

. .. Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan

(Rendra, Sajak Sebatang lisong)

“iyaa mas sama-sama. Saya senang kalau ada mahasiswa yang mau main kesini dan melihat kondisi kami. Kapan-kapan kalau mau, saya mau mengajak teman-teman ininaik perahu, melihat tempat kami mencari ikan. Kalau sekarang belum bisa karena cuacanya gak bagus” kata bapak itu.

“waa, bagus itu pak. Boleh2. Kebetulan salah seorang teman kami adalah seorang pelaut asalnya dari kalimantan”

lalu semua orang  menoleh pada seorang lelaki dan si lelaki ini akhirnya salah tingkah lalu berkata, “ahh kau ini nan!” hahaha

Itu tadi sepotong cerita perjalanan welcome party kami, kementrian energy dan maritime BEM ITS di sebuah desa nelayan. Ada banyak hal yang kami dapatkan disana dan ada banyak  PR pula yang harus kami kerjakan. Pesta kami kali ini barangkali cukup sederhana, hanya berbekal nasi tumpeng dan aqua gelas. Jauh dari kesan mewah seperti welcome party yang biasa dilakukan di restoran maupun hotel.  Dengan alas tikar sederhana yang digabung dengan potongan spanduk bekas kami duduk bersila bersama-sama dengan para nelayan.Tanpa ada sekat, tanpa ada batas, mengobrol, bercerita, berdiskusi dan makan bersama dengan mereka, menyadarkan kami bahwa kami sebenarnya sama dengan mereka. Kami adalahbagian dari mereka, masyarakat. Hanya bedanya, kami lebih beruntung karena Tuhan memberi kesempatan pada kami untuk mendapat pendidikan lebih. Tentu pendidikan yang kami dapat ini, bukan suatu hal yang main-main. Ini (pendidikan) adalah amanah, amanah dari masyarakat untuk membuat bangsa dan negara ini jauh lebih baik dan lebih maju dari sebelumnya.

Dibuka dengan doa yang dipimpin oleh sesepuh setempat. Berdoa semoga kementrian energy maritime ini bisa mengemban amanah kepengurusan dengan baik, bisa berguna untuk diri sendiri, orang tua, untuk almamater ITS, untuk masyarakat, agama, bangsa dan Negara. Berdoa semoga kehidupan nelayan disini bisa jauh lebih sejahtera dari sebelumnya. Dan berdoa semoga pemimpin2 bangsa ini diberikan kemudahan untuk melaksanakantugas Negara, lebih mengayomi masyarakat dan semoga bisa membuat bangsa ini jauh lebih baik, lebih adil makmur tentrem kertoraharjo

Diakhiri dengan diskusi, dan motivasi. Lalu mereka mengantar kami berjalan hingga ke ujung gang. Dan dengan melambaikan tangan para nelayan melepas kami. Mereka sangat ramah dalam ingatan kami.

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalanraya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
Rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri”

(Taufik Ismail, sajak KerendahanHati)

10928155_522228134587148_1706170066_n

BEM ITS Bahas Polemik Tol Laut

Polemik tol laut yang saat ini masih menjadi pertanyaan berbagai kalangan mendorong Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS untuk mengadakan kajian, Senin (27/4). Kajian ini bertujuan untuk mengklarifikasi berbagai anggapan mengenai tol laut yang saat ini ‘berkembang baik’ di kalangan media maupun pemerintah.

Menurut Direktur Jenderal Kemaritiman BEM ITS, Satria Jaya Negara, saat ini perkembangan konsep tol laut yang diusung Jokowi masih abu-abu. Pasalnya, banyak pihak yang memiliki pandangan berbeda mengenai perkembangan tol laut ini. “Ada yang menyatakan tol laut saat ini mengalami perkembangan, tapi ada juga yang bilang tidak jalan sama sekali,” tegasnya kepada ITS Online.

Untuk itulah, menurut Satria, kajian ini sangat diperlukan demi meluruskan pandangan mahasiswa atas berbagai isu terkait tol laut ini. Ia juga mengungkapkan sebenarnya kajian ini merupakan kelanjutan dari kajian serupa yang pernah diadakan Himpunan Jurusan Teknik Sistem Perkapalan (Himasiskal) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan (Himatekpal). “Jangan sampai tol laut ini hanya dimengerti oleh mahasiswa Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) saja. Mahasiswa jurusan lain juga patut tahu,” terangnya.

Imran Ibnu Fajri, Presiden BEM ITS, mengungkapkan dalam kajian ini seharusnya tidak lagi dibahas mengenai penolakan maupun persetujuan atas konsep tol laut. Hal ini ia ungkapkan karena menurutnya saat ini konsep tol laut sudah berjalan. “Sekarang tinggal bagaimana kita mengawal kebijakan pemerintah agar sesuai dengan konsep tol laut yang direncanakan dari awal,” ujarnya kepada peserta.

Salah satu contoh kebijakan pemerintah yang patut dikaji menurut Fajri adalah mengenai pembelian kapal buatan Tiongkok sebanyak 1500 buah. Sebagai mahasiswa FTK, ia menilai sebenarnya kebijakan ini sangat merugikan industri galangan kapal di Indonesia. Hal ini karena kapal merupakan barang yang bisa dipakai hingga puluhan tahun. “Kalau kita mengimpor 1500, artinya kapal-kapal buatan Indonesia dipastikan tidak laku hingga puluhan tahun mendatang,” terang mahasiswa asal Jakarta ini.

Tak hanya Fajri, dalam kajian ini juga terdapat banyak usulan dari beberapa mahasiswa dalam pengembangan konsep tol laut ini. Misalnya saja masukan dari  Rahman Ernanto Putera, Ketua Departemen Kajian Strategis Himatekpal. Menurutnya, salah satu usaha yang bisa dilakukan pemerintah dalam mendukung konsep tol laut adalah dengan memperluas lahan khusus industri maritim.

Dikatakannya, saat ini PT PAL Indonesia masih memiliki lahan yang kurang memadai untuk melakukan produksi kapal dalam jumlah besar. Oleh karena itu, lanjutnya, Indonesia seharusnya belajar dari Korea Selatan yang telah berhasil memiliki lahan khusus industri kemaritiman. “Di lahan tersebut, seluruh industri kapal dikumpulkan sehingga mereka tidak perlu impor bahan-bahan pembuatan kapal lagi,” ujarnya.

Tak hanya Rahman, beberapa mahasiswa lain juga turut menyumbangkan aspirasi mereka dalam mendukung kebijakan pemerintah ini. Meski demikian, sempat terjadi perdebatan dalam kajian ini mengenai perbedaan konsep tol laut dan pendulum nusantara yang telah diinisasi sebelumnya oleh PT Pelabuhan Indonesia (PELINDO).

Karenanya, Sunanto, Menteri Energi dan Maritim BEM ITS sangat mengapresiasi antusias mahasiswa ITS dalam membahas isu ini. Ia menjelaskan hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa ITS masih peduli dengan isu-isu bangsa. “Dengan demikian, semua jurusan yang ada di ITS bisa turut memberikan rekomendasi kepada pemerintah terkait pembangunan kemaritiman ini,” ujarnya.

Meski demikian, mahasiswa yang akrab disapa Nanto ini menilai beberapa bahasan mengenai tol laut tidak bisa diselesaikan dalam satu kali kajian. Oleh karena itu, pihaknya berencana mengadakan kajian-kajian selanjutnya. “Kalau bisa kami juga ingin menghadirkan perwakilan dari instansi terkait seperti PT PAL,” pungkasnya. (pus/man)

sumber berita : https://www.its.ac.id/berita/14990/en

Sebuah Sudut Pandang : APA KABAR TOL LAUT ?

Sebuah Sudut Pandang : APA KABAR TOL LAUT ?

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno mencita-citakan Indonesia untuk kembali menjadi bangsa pelaut seperti nenek moyangnya. Cita-cita ini tercermin dalam pidato peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 1953.

 Ketika itu Presiden soekarno berkata,soekarno_in_wpap_by_widikurniawan-d4gu3zq

  “… Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Ya.., bangsa pelaut dalam arti yang seluas-luasnya. Bukan sekedar menjadi jongos-jongos di kapal, Bukan! Tetapi bangsa laut dalam arti cakrawati samudera. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri.”

Penggalan pidato itu jelas menegaskan dua hal. Pertama, dorongan kuat agar bangsa Indonesia mampu mandiri mengelola kekayaan lautnya. Kedua, bangsa Indonesia harus menguasai teknologi di bidang kemaritiman untuk menopang tujuan tersebut.

Menilik sejarah, dua kerajaan besar yang pernah berdiri di Nusantara yaitu Sriwijaya dan Majapahit, membangun diri sebagai kekuatan maritim yang kuat. Kedua kerajaan ini mampu mengelola sumber daya pertanian, mengembangkan pendidikan, teknologi  dan budaya dengan orientasi kelautan.

Melihat kenyataan bahwa Indonesia 2/3 wilayahnya adalah lautan dan terdiri dari 18 ribu pulau yang membentang dari sabang sampai merauke menjadikan Indonesia lahir sebagai negara maritim. Selain itu, posisi silang diantara dua samudera dan dua benua menjadikan indonesia mempunyai posisi strategis di dunia internasional. Karena sangat pentingnya posisi Indonesia, sampai-sampai Tan Malaka berkata, “Kalau suatu negara seperti Amerika mau menguasai samudera dan dunia, dia mesti rebut Indonesia terlebih dahulu untuk sendi kekuasaan”.

Sudah 69 tahun merdeka, mimpi para founding fathers tersebut belum juga menjadi kenyataan akibat sekian lama orientasi kebijakan yang cenderung mengikuti nalar daratan dan meninggalkan identitas lautan.  Kini, pemerintahan yang baru hasil pemilu 2014 kembali mengusung visi maritim yang pernah dicita-citakan oleh founding fathers.

Pemerintahan Jokowi-JK mengusung visi-misi yang sangat berorientasi pada aspek maritim. Visi Jokowi JK adalah Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-Royong. Sedangkan misinya adalah sebagai berikut :

  1. Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumberdaya maritim dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.
  2. Mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan dan demokratis berlandaskan berlandaskan negara hukum
  3. Mewujudkan politik luar negeri bebas aktif dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim
  4. Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju dan sejahtera
  5. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing
  6. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional
  7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan

Untuk mewujudkan misinya tersebut Jokowi-JK merumuskan dalam 3 Trisakti yakni Berdaulat di bidang politik, Berdikari ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Adapun untuk janji program nyata yang akan dilaksanakan terutama dalam menunjang visi berdikari ekonomi dalam sektor maritim adalah sebagai berikut : point ke (19) Pengembangan industri perkapalan di dalam negeri untuk menyediakan sarana transportasi laut yang aman, efisien dan nyaman (20) Pengembangan kapasitas dan kapabilitas perusahaan jasa kapal laut di Indonesia (21) Pengembangan rute kapal laut yang menghubungkan seluruh kepulauan di Indonesia secara efisien termasuk pulau-pulau terisolasi (22) Revitalisasi pelabuhan laut yang sudah ada, terutama pengembangan Belawan, tanjung Priok, Tanjung Perak, Bitung, Makasar dan Sorong sebagai Hub Port berkelas internasional ,(23) Membangun dryport, (26) Penurunan biaya logistik 5% per tahun dengan mengembangkan sitem transportasi umum massal terintegrasi yang berimbang baik di lautan, udara maupun darat, (34) Bertambahnya kapal domestik (35) Peningkatan jumlah pelabuhan kontainer (10 unit).

Untuk konektivitas antar pulau-pulau di Indonesia Jokowi-JK menjadikan proyek tol laut sebagai proyek unggulan. Tol laut bukanlah jalan tol yang dibangun diatas laut atau di bawah laut. Menurut Tim ahli ekonomi Jokowi-JK (dalam Kompas.com) , Tol laut adalah jalur kapal-kapal besar yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia. Akan ada kapal rutin berlayar dari Sumatera ke Papua dan kembali. Kalau jadwal teratur maka sistem transportasi laut bisa efisien. Saat ini sistem transportasi laut khususnya untuk barang masih jauh dari apa yang dibayangkan. Tidak ada jadwal kapal berangkat, tiba dan penurunan barang secara pasti. Ini menyebabkan biaya logistik di Indonesia cenderung mahal. Pada tahun 2013, biaya logistik Indonesia mencapai 27 persen dari produk domestik bruto (PDB), sementara pada tahun 2011 mencapai 24,6 % dari PDB. Jelas sangat tidak efisien dan hampir separuh ongkos logistik di Indonesia disedot ongkos transportasi. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Singapura sebesar 8 persen,  Malaysia 13 persen. Thailand 20 persen dan bahkan jauh lebih tinggi dari Vietnam yang hanya 25 persen PDB.

Presiden Jokowi mengembangkan tol laut yang berasal dari konsep pendulum Nusantara yang digagas oleh Pelindo II. Bedanya, pendulum nusantara tak menggunakan dua hub internasional dan 16 pelabuhan pengumpul. Konsep Pelindo itu hanya menekankan pada enam pelabuhan semata. Dirut Pelindo II, RJ Lino (dalam okezone.com), mengakui konsep Pendulum Nusantara diterjemahkan Jokowi sebagai tol laut. Konsep pendulum nusantara adalah bagian dari Sistem Logistik Nasional (sislognas) dalam mendukung MP3EI.

Dasar pemikiran pendulum nusantara yang kemudian menjadi tol laut ini adalah terbangunnya skala ekonomi dalam pengangkutan laut yang selama ini masih tidak efisien. Jika barang diangkut dengan kapal antar pulau yang bobotnya 1000 ton, biayanya akan menjadi beberapa kali lipat lebih mahal, jika dibandingkan dengan diangkut kapal yang bobotnya 50 ribu DWT yang mampu mengangkut lebih dari 3000-4000 kontainer sekaligus.

Rancangan-Arsitektur-Tol-Laut-Indonesia

Untuk pelayaran luar negeri, Indonesia juga masih mengandalkan kapal asing untuk angkutan barang jarak-jauh hingga ke Eropa. Guna melayari samudera untuk mengangkut barang dalam jumlah yang sangat besar, dibutuhkan kapal dengan bobot mati minimal 100 ribu DWT. Sedangkan kemampuan Indonesia, baru memproduksi dan memiliki kapal-kapal dengan bobot tak lebih dari 50 ribu DWT. Kapal berbobot 50 ribu DWT pun baru dalam tahap produksi leh PT PAL. Dengan demikian, kapal-kapal Indonesia belumlah hilirmudik mengangkut produk-produk nasional hingga jauh ke mancanegara. Kebanyakan ekspor dan impor Indonesia harus melalui kapal-kapal besar yang bersandar di Singapura yang mampu menerima kapal berbobot 100 ribu DWT sedangkanpelabuhan Indonesia masih belum mampu karena kebanyakan kurang dalam (Laksanawan dkk, 2014)

Melihat pentingnya tol laut untuk konektivitas sekaligus peningkatan perekonomian Indonesia. Pemerintah Jokowi-JK sangat serius dalam membangun konektivitas laut Indonesia. Secara kelembagaan Jokowi-JK membentuk Kementrian Koordinator  kemaritiman yang di kepalai oleh Indroyono Soesilo.  Kemenko Maritim dalam presentasinya di Kampus ITS mengatakan mempunyai target kerja sebagai berikut :

  1. Sistem transportasi laut yang mampu menurunkan biaya logistik nasional dibawah 24,5% terhadap PDB; (i.e.: Container Padang-Jkt VS S’pore-Jkt)
  2. Mampu menumbuhkan armada pelayaran nasional dari 10% menjadi 30%;
  3. Mampu meremajakan kapal nasional; kapal tua dari 70% menjadi 50%;
  4. Mampu mengurangi waktu pelayanan pelabuhan (dwelling time) pada Pelabuhan Utama dari 6-7 hari menjadi 3-4 hari,
  5. Mampu meningkatkan pertumbuhan signifikan di luar pulau Jawa

Untuk menjawab target kerja tersebut, akan dilakukan sebagai berikut :

  1. Revitalisasi dan penyediaan armada kapal yang menghubungkan pelabuhan utama, l. melalui Public Service Obligation (PSO);
  2. Pemberlakuan azas cabotage untuk angkutan laut dalam negeri secara penuh guna memperkuat kedaulatan maritim;
  3. Pengembangan industri galangan perkapalan nasional agar lebih produktif, berdaya saing dan mampu mencukupi kebutuhan kapal nasional;
  4. Pengembangan Pelabuhan Hub Internasional sebagai Logistic Center di Kawasan Barat dan Timur Indonesia;
  5. Pengembangan infrastruktur pelabuhan serta peningkatan efisiensi pelayanan pelabuhan;
  6. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang kemaritiman

Semua hal diatas sangat erat kaitannya dengan proyek pembangunan tol laut. Tol laut sangat besar manfaatnya bagi peningkatan perekonomian Indonesia khususnya dalam penurunan biaya logistik nasional. Untuk mengimplementasikan proyek tol laut dibutuhkan dana yang tidak sediki. Menurut Dedy S Priatna, proyek tol laut ditaksir mencapai 700 Triliunan. Anggara Proyek ini akan dimasukkan dalam APBN-P 2015 dan RPJMN 2015-2019.

Kebutuhan anggaran yang tidak sedikit ini, akhirnya memaksa Pemerintahan Jokowi-JK untuk menarik investor asing masuk. Jokowi bahkan sudah menawarkan proyek tol laut pada sejumlah negara seperti Cina dan Jepang. Menurut menteri Bapenas, Presiden Joko Widodo dalam lawatannya ke Jepang dan Tiongkok akan menawarkan peluang investasi untuk membangun 24 pelabuhan yang menjadi pilar proyek infrastruktur tol laut. Berdasarkan catatan Bappenas mengenai konsep awal tol laut, sebanyak 24 pelabuhan itu akan dibagi menjadi pelabuhan “hub”, pelabuhan utama, dan pelabuhan pengumpul yang mampu mendistribusikan barang ke kota-kota kecil. Sebanyak 24 pelabuhan itu adalah Pelabuhan Banda Aceh, Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Pangkal Pinang, Pelabuhan Kuala Tanjung, Pelabuhan Dumai, Pelabuhan Panjang, Pelabuhan Batam, dan Pelabuhan Padang.Kemudian Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Cilacap, Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Lombok, Pelabuhan Kupang, Pelabuhan Banjarmasin, Pelabuhan Pontianak, Pelabuhan Palangka Raya, Pelabuhan Maloy dan Pelabuhan Bitung. Selanjutnya adalah Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Ambon, Pelabuhan Halmahera, Pelabuhan Sorong, Pelabuhan Jayapura dan Pelabuhan Merauke . Selain sarana fisik 24 pelabuhan strategis, pemerintah juga berencana membangun infrastruktur penunjang tol laut, “short sea shipping”, fasilitas kargo dan kapal, pengembangan pelabuhan komersial, dan pembangunan transportasi multimoda.

Sebagai tindak lanjutpertemuan Jokowi dengan Presiden Cina Xi Jin Ping disela-sela KTT APEC, banyak perusahaan asal negeri tirai bambu tersebut yang ingin berinvestasi di Indonesia.Salah satunya adalah China Merchant Group. Dan menurut, Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) Franky Sibarani, Sudah membuat kesepakatan BUMN Tiongkok dan BUMN Indonesia, nilainya sekitar 2 miliar dolar AS dan diharapkan segera direalisasikan. Pemerintah juga akan memanfaatkan optimal keberadaan Asia Investment Infrastruktur Bank (www.tribunews.com)

Untuk menarik investor Jepang, Jokowi melakukan pertemuan dengan para pengusaha Jepang yang tergabung dalam Japan External Trade Organization (JETRO), Presiden Jokowi bertemu dengan sekitar 1.200 pengusaha utama Jepang dalam Business Forum, Hotel New Otani, Tokyo. Jokowi menjelaskan tol laut, nantinya akan memberikan sebuah transportasi yang murah bagi distribusi barang dari pulau ke pulau. Mulai dari barat di Pulau Sumatera kemudian ke arah timur ke arah Papua di sini. Sekarang ini telah disederhanakan yang dulunya ngurus izin sampe 1.150 hari sekarang kira-kira 220-an hari, sebuah pemotongan yang sangat panjang menjadi sangat pendek sekali sehingga ini bisa dimanfaatkan oleh investor-investor dalam mengurus perizinan.

Lantas bagaimana dengan prosentase pendanaan proyek tol laut dalam RPJMN 2015-2019?

Tol laut merupakan mega proyek raksasa yang membutuhkan dana yang sangat besar. Dalam RPJMN 2015-2019 pembangunan proyek tol laut dan segala prasarananya ini membutuhkan dana hingga 900 T. Adapun rincian alokasi dananya adalah sebagai berikut: APBN 498 Triliun, BUMN 238,2 Triliun dan Swasta sebesar 163,8 Triliun.rilis

Sumber : Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bapenas, 2015

Jika lebih didetailkan alokasi dana untuk perhubungan laut meliputi pembangunan 24 pelabuhan strategis, short she shipping, pengembangan pelabuhan, pembelian kapal dll dengan rincian dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

rilis 2
Jadi Pemerintah disini punya andil yang sangat besar dalam pembiayaan proyek perhubungan laut. Terutama lewat APBN sebesar 498 Triliun dan BUMN 238,151 Triliun. Adapun swasta hanya mempunyai andil sebesar 163,8 Triliun. Pihak swasta pun baik asing maupun dalam negeri yang paling besar prosentasenya adalah di proyek pembangunan 24 pelabuhan 87 Triliun, fasilitas kargo umum , bulk dan pengembangan pelabuhan komersil masing-masing sebesar 20 T serta proyek pembelian kapal sebesar 26 T. Namun, jika melihat komposisinya, pembiayaan dari sektor swasta sangat kecil dibandingkan dengan pembiayaan dari BUMN dan APBN.  Kecuali untuk proyek revitalisasi industri galangan kapal, pelabuhan kargo dan pengembangan pelabuhan komersil. Tentu hal ini bisa menjawab isu yang selama ini beredar bahwa proyek tol laut akan dikuasai oleh investasi negara asing adalah tidak benar. Bahwa pemerintah masih memprioritaskan kepentingan nasional dalam pembangunan infrastruktur Tol laut Indonesia.

Pembangunan proyek tol laut ini tentu akan membutuhkan dana yang besar dan waktu yang tidak sebentar sedangkan pemerintah Jokowi-JK menargetkan proyek ini selesai dalam waktu 5 tahun sesuai dengan yang tertera dalam RPJMN. Oleh karena proyek ini sangat strategis, maka sangat diperlukan pengawasan bersama dari semua pihak mulai dari pembuatan konsep, pendanaan, eksekusi  dan laporan pertanggungjawaban.

Untuk proyek tol laut ini juga memerlukan kecerdasan dan kecermatan pemerintah didalam pengambilan kebijakan jangan sampai gegabah sehingga bisa merugikan kepentingan nasional. Meskipun disatu sisi selalu ada dilema dalam hal pendanaan, membuka kran investasi luar negeri juga terdapat konsekuensi yang nanti ditanggung dan jika tidak membuka kran investasi, geliat investasi dalam negeri juga masih kurang. Peran pemerintah sebagai pengambil kebijakan sangat penting dalam kondisi ini agar tujuan mulia dari pembangunan proyek tol laut ini bisa terwujud.  Dan sebagai bagian dari rakyat indonesia, kami berharap agar pemerintah dapat lebih transparan dalam mengimplementasikan pembangunan mega proyek tol laut ini dan kami juga menuntut ketegasan pemerintah untuk berpihak dalam pembangunan industri dalam negeri dan jangan sampai dengan adanya tol laut dapat menjadi pembuka jalan dominasi barang-barang impor di Indonesia.

Salam

Jalesveva Jayamahe, Di lautan kita Jaya.

Referensi :

Dokumen Visi Misi Jokowi-JK kpu.go.id/koleksigambar/VISI_MISI_Jokowi-JK.pdf

Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019

http://www.antaranews.com/berita/486898/indonesia-tawarkan-investasi-24-pelabuhan-tol-laut

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/06/17/1449113/Timses.Jokowi.Jelaskan.soal.Tol.Laut

http://economy.okezone.com/read/2015/03/11/320/1117187/konsep-tol-laut-kuat-di-barat-lemah-di-timur

http://www.tribunnews.com/bisnis/2015/04/01/dua-investor-tiongkok-ingin-bangun-tol-laut

http://www.setneg.go.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=8902

http://katadata.co.id/berita/2015/03/20/jokowi-tawarkan-proyek-infrastruktur-ke-cina-dan-jepang

http://www.fmeindonesia.org/mengawal-misi-pembangunan-tol-laut-hadiah-nawacita-jokowi-jk/

Laksanawan, Irnanda dk.2014.Indonesia Berdaulat, Berdikari, dan Berdaya Saing. Jakarta: IKA ITS

Presentasi Menko Maritim, Indroyono Soesilo di Kampus ITS.2015. Pembangunan Kemaritiman Indonesia

Presentasi Deputi Sarana dan Prasana Bappenas.2014.Prioritas Kedaulatan Energi dan Infrastruktur RPJMN 2015-2019