Welcome Party Kementrian Energi Maritim BEM ITS

“ . . . Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing

diktat-diktat hanya boleh memberi metode

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan

kita mesti keluar ke jalan raya

keluar ke desa-desa

mencatat sendiri semua gejala

dan menghayati persoalan yang nyata .. . ”

(Rendra 1978, SajakSebatang Lisong)

Sore tadi, saya dan teman-teman berkunjung ke desa nelayan.Katanya mereka sedang tidak melaut karena laut sedang surut. Angin sedangbertiup dari barat ke timur, angin baratan kata mereka. Ketika angin barat,jumlah ikan yang bisa mereka tangkap sangat sedikit jumlahnya. Berbeda ketikaangin timuran, yang berhembus dari australia di selatan ke arah malaka dan lautcina selatan, di barat. Angin ini membawa banyak sekali ikan, sehingga merekabiasanya bisa ‘panen’ di bulan-bulan timuran. Bulan timuran terjadi di bulan 5 hingga 10, mereka bisa dapat ikan banyak, sekali melaut satu orang nelayan bisamendapat hingga satu kuintal ikan, angka ini bisa dibilang cukup besar melihatalat tangkap mereka yang sederhana dan perahu-perahu mereka yg sudah tua dan tradisional.

10872568_522235841253044_1477666755_n

Selain kakek yang bercerita, aku pun mencoba memberanikandiri untuk bertanya agar obrolan bisa menjadi dua arah dan lebih asik.

“kek, gmana hasil tangkapan ikan di zaman duludibandingkan zaman sekarang?” tanyaku

“beda nak, sangat beda. sekarang sudah semakin sedikit.tidak seperti dulu. Kalau dulu, gak perlu melaut sampai jauh, cukup sekitarsini saja sudah dapat banyak ikan. Sekarang? harus melaut dulu sampai jauh disana (sambil menunjuk ke arah laut), baru bisa dapat ikan. Sekarang sekitar sini, airnya sudah semakin tidak bagus nak, air yang berasal dari sungai itusudah tercemar bahan-bahan kimia. Telur-telur ikan kena racun sehingga tak bisa menetas. Kepiting dan udang pun sangat susah dicari sekarang” kakek merinci jelas jawabannya

Kakek melanjutkan ceritanya, “dan di sebelah situ nak(sambil menunjuk), coba kamu lihat. Ada pohon-pohon bakau. Kakek senang melihatnya. Beberapa tahun yang lalu ada sekelompok mahasiswa yang menanam disitu. Sekarang sudah lumayan hijau di sekitar sini. Karena bakau itu nak, air laut bisa tertahan di akar-akarnya sehingga gak sampai masuk ke rumah-rumah. Beberapa jenis kepiting dan udang bisa kami temui juga di sekitar bakau”

Dalam hati, aku sangat senang mendengar penjelasan kakek. Bahwa ada mahasiswa-mahasiswa di kala sibuknya tugas masih menyempatkan diri untuk melakukan penghijauan. Dan hal ini semakin memotivasi diri bahwa hal yang dilakukan oleh mahasiswa (penghijauan) selama ini tidak sia-sia, manfaatnyasudah dirasakan oleh masyarakat. “Tanaman bakau ini harus diperbanyak!” kataku dalam hati

10893899_522230717920223_1125041479_n

Kakek juga bercerita hal lain yang dialaminya kini. Kali inidia bercerita sangat serius. Ini mengenai pendangkalan, iya pendangkalan laut.

“nak, kalau kakek pergi ke pantai. Dulu itu tingginya bisasampai setinggi paha. Dulu itu sangat dalam nak. Sangat mudah melayarkan perahudan mencari ikan sekitar pantai. Tapi saat ini, laut sudah semakin dangkal. Laut sudah berkurang luasnya” kata kakek

Lalu bapak-bapak yang disebelahnya ikut nimbrung dan mengiyakan, “iyaa mas, itu betul mas. Saya sekarang kalau melaut itu harus sampai ke tengah dulu baru dapet ikan.  Lautsudah semakin dangkal. Mas samean tahu, itu itu saya kalau nyari ikan itu disekitar damen, itu daerah tempat nyari ikan kelompok saya. Satu kelompok ada 9orang mas, kebetulan saya ketua kelompoknya. Sekarang mas, disekitar situ adapatok-patok. Setelah saya selidiki itu patok milik PT XX . Patok itu katanyatanda kalau itu nanti bakal ada pengurugan pantai di sekitar situ. Mas inigimana mas, padahal itu adalah tempat saya dan teman-teman saya nyari ikan,nyari makan untuk keluarga. Laut itu bukannya daerah bebas, milik negara, siapa saja boleh mengambil ikan disitu. Lah ini kalau dikasih patok gmana? Kog diklaim sebagai wilayahnya dan akan diurug?”

“Owh gitu pak, hmm . . .” sambil berpikir, saya mencoba menyimak terlebih dahulu, tanpa banyak menanggapi. Tak ingin mengganggu beliau yg sedang bersemangat bercerita.

Bapaknya  lalu melanjutkan penjelasannya, “mas ini terakhir dari saya, tolonglah orang kecil kayak kita ini dibantu. Tolong disuarakan keluhan saya tadi kepada pemerintah dan pihak terkait. Saya dan teman-teman sudah ke kantor desa  tapi tidak menghasilkan apa-apa karena tidak cukup bukti kata petugas desa. Mahasiswa kan bagian dari masyarakat katanya. Mahasiswa itu harus berani bicara kebenaran. Suara mahasiswa itu suara rakyat. Kalau mahasiswa saja tidak berani mengatakan kebenaran, ya sudahlah! kita-kita ini bisa apa… “

10917500_522230707920224_30097351_n

“Jadi seperti ini pak masalahnya, Insyaallah keluhan bapak ini akan coba kami kaji terlebih dahulu dengan teman-teman kami di kampus. Karena hal ini melibatkan banyak keilmuandan literature. Barangkali nanti kajian kami bisa membantu. Insyaallah kalau tidak ada aral melintang kami akan main kesini lagi. Terima kasih pak sebelumnya, sudah mau menerima kami disini, dan mau berbagi cerita bersama kami “ jawab saya

. .. Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan

(Rendra, Sajak Sebatang lisong)

“iyaa mas sama-sama. Saya senang kalau ada mahasiswa yang mau main kesini dan melihat kondisi kami. Kapan-kapan kalau mau, saya mau mengajak teman-teman ininaik perahu, melihat tempat kami mencari ikan. Kalau sekarang belum bisa karena cuacanya gak bagus” kata bapak itu.

“waa, bagus itu pak. Boleh2. Kebetulan salah seorang teman kami adalah seorang pelaut asalnya dari kalimantan”

lalu semua orang  menoleh pada seorang lelaki dan si lelaki ini akhirnya salah tingkah lalu berkata, “ahh kau ini nan!” hahaha

Itu tadi sepotong cerita perjalanan welcome party kami, kementrian energy dan maritime BEM ITS di sebuah desa nelayan. Ada banyak hal yang kami dapatkan disana dan ada banyak  PR pula yang harus kami kerjakan. Pesta kami kali ini barangkali cukup sederhana, hanya berbekal nasi tumpeng dan aqua gelas. Jauh dari kesan mewah seperti welcome party yang biasa dilakukan di restoran maupun hotel.  Dengan alas tikar sederhana yang digabung dengan potongan spanduk bekas kami duduk bersila bersama-sama dengan para nelayan.Tanpa ada sekat, tanpa ada batas, mengobrol, bercerita, berdiskusi dan makan bersama dengan mereka, menyadarkan kami bahwa kami sebenarnya sama dengan mereka. Kami adalahbagian dari mereka, masyarakat. Hanya bedanya, kami lebih beruntung karena Tuhan memberi kesempatan pada kami untuk mendapat pendidikan lebih. Tentu pendidikan yang kami dapat ini, bukan suatu hal yang main-main. Ini (pendidikan) adalah amanah, amanah dari masyarakat untuk membuat bangsa dan negara ini jauh lebih baik dan lebih maju dari sebelumnya.

Dibuka dengan doa yang dipimpin oleh sesepuh setempat. Berdoa semoga kementrian energy maritime ini bisa mengemban amanah kepengurusan dengan baik, bisa berguna untuk diri sendiri, orang tua, untuk almamater ITS, untuk masyarakat, agama, bangsa dan Negara. Berdoa semoga kehidupan nelayan disini bisa jauh lebih sejahtera dari sebelumnya. Dan berdoa semoga pemimpin2 bangsa ini diberikan kemudahan untuk melaksanakantugas Negara, lebih mengayomi masyarakat dan semoga bisa membuat bangsa ini jauh lebih baik, lebih adil makmur tentrem kertoraharjo

Diakhiri dengan diskusi, dan motivasi. Lalu mereka mengantar kami berjalan hingga ke ujung gang. Dan dengan melambaikan tangan para nelayan melepas kami. Mereka sangat ramah dalam ingatan kami.

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalanraya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
Rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri”

(Taufik Ismail, sajak KerendahanHati)

10928155_522228134587148_1706170066_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s