Trowulan National Capital City

mojokerto

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang terletak di Asia Tenggara dan pemerintahannya berbentuk republik. Indonesia mempunyai 5 pulau besar diantaranya adalah pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan panjang garis pantai lebih dari 81.000 km serta lebih dari 17.508 pulau dan luas laut sekitar 3,1 juta km2 sehingga wilayah pesisir dan lautan Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan dan keanekaragaman hayati (biodiversity) laut terbesar di dunia dengan memiliki ekosistem pesisir seperti mangrove, terumbu karang (coral reefs) dan padang lamun (sea grass beds) (Dahuri et al. 1996). Serta mempunyai masyarakat plural terbesar terdiri dari bermacam-macam suku bangsa, budaya dan agama. Indonesia terdiri dari 33 provinsi yang terbentang luas di khatulistiwa, dipisahkan oleh lautan luas dan kaya akan hasil alam (Dahuri, R. et al, 1996).

Berdasarkan letak astronomisnya, Indonesia berada di antara 6° LU – 11° LS dan antara 95° BT – 141° BT. Menurut letak geografisnya, Indonesia terletak di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia, dan berada di antara dua samudra, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang merupakan pertemuan dua samudra besar (Samudra Pasifi dan Samudra Hindia) dan diapit daratan luas (Benua Asia dan Austraia), hal itu menyebabkan pengaruh terhadap kondisi alam. Wilayah Indonesia beriklim laut, sebab merupakan negara kepulauan, sehingga Indonesia banyak memperoleh pengaruh angin laut yang mendatangkan banyak hujan.Indonesia memiliki iklim musim, yaitu iklim yang dipengaruhi oleh angin muson yang berhembus setiap 6 bulan sekali berganti arah. Hal ini yang menyebabkan di Indonesia dikenal adanya musim penghujan dan musim kemarau. Letak Geografis Indonesia sangat berpengaruh terhadap keadaan penduduk yaitu Indonesia terletak di antara negara-negara berkembang, sehingga memiliki banyak rekanan dan mitra kerja sama.Indonesia banyak dipengaruhi kebudayaan asing, mulai dalam bidang seni, bahasa, peradaban maupun agama.Menunjang perdagangan di Indonesia dan menambah sumber devisa negara karena berada dalam jalur lalu lintas perdagangan dan pelayaran yang cukup ramai. Hal ini menjadikan posisi Indonesia sangat strategis di mata dunia internasional.

Kota Jakarta yang sekarang merupakan evolusi dari Kota yang dulu bernama Batavia, Ibukota Hindia Belanda buatan VOC.  Kota Jakarta yang kita kenal sebagai Ibu Kota Negara bisa dibilang simbol Ibu Kota warisan penjajah. Berdasarkan undang-undang Republik Indonesia nomor 10 tahun 1964, Jakarta ditetapkan sebagai ibukota negara yang di sahkan tanggal 31 Agustus 1964 oleh presiden Soekarno pada saat itu. Semenjak dinyatakan sebagai ibu kota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta. Pemerintah pun mulai melaksanakan program pembangunan proyek besar, seperti membangun pemukiman masyarakat, dan mengembangkan pusat-pusat bisnis kota. Hingga saat ini, Jakarta masih harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk, seperti banjir, kemacetan, serta kekurangan alat transportasi umum yang memadai. Yang terbaru adalah Undang-undang No. 29 Tahun 2007 Pasal 4 dan Pasal 5 yang menegaskan kembali Provinsi DKI Jakarta adalah daerah khusus yang berfungsi sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sekaligus sebagai daerah otonom pada tingkat provinsi. Provinsi DKI Jakarta berperan sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki kekhususan tugas, hak, kewajiban, dan tanggung jawab tertentu dalam penyelenggaraan pemerintahan dan sebagai tempat kedudukan perwakilan negara asing, serta pusat/perwakilan lembaga internasional.

Sebagaimana umumnya kota megapolitan, Jakarta memiliki masalah stress, kriminalitas dan kemiskinan. Penyimpangan peruntukan lahan dan privatisasi lahan telah menghabiskan persediaan taman kota sehingga menambah tingkat stress warga Jakarta. Kemacetan lalu lintas, menurunnya interaksi sosial karena gaya hidup yang individualistik juga menjadi penyebab stress. Tata ruang kota yang tidak partisipatif dan tidak humanis menyisakan ruang-ruang sisa yang mengundang tindak laku kriminalitas. Penggusuran kampung miskin dan penggusuran lahan usaha informal oleh pemerintah adalah penyebab aktif kemiskinan di Jakarta. Tata ruang kota yang sering berubah-ubah, menyebabkan polusi udara dan banjir sulit dikendalikan. Walaupun pemerintah telah menetapkan wilayah selatan Jakarta sebagai daerah resapan air (Perda Nomor 1 Tahun 2012), namun ketentuan tersebut sering dilanggar dengan terus dibangunnya perumahan serta pusat bisnis baru. Beberapa wilayah yang diperuntukkan untuk pemukiman, banyak yang beralih fungsi menjadi tempat komersial.

Jakarta, ibu kota dan juga kota terbesar di Indonesia, memiliki penduduk lebih dari 9,5 juta jiwa berdasarkan hasil sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah penduduk Jakarta saat ini. Padahal banyak pengamat perkotaan mengatakan Jakarta sebenarnya hanya dirancang untuk dihuni maksimal tujuh juta jiwa. Tak pelak pertumbuhan penduduk yang tak terkendali ini membuat masalah terus muncul di ibukota, salah satunya adalah kemacetan lalu lintas yang semakin hari kian memanjang. Dari berbagai data menunjukkan, jumlah seluruh kendaraan bermotor di Jakarta ternyata jauh lebih banyak ketimbang jumlah penduduknya. Padahal, jumlah kendaraan bermotor terus tumbuh rata-rata 10-15% tiap tahun. Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km2, dengan penduduk berjumlah 9,5 juta jiwa  merupakan metropolitan terbesar di asia tenggara atau terbesar kedua di dunia. Dilihat dari luas wilayah dan banyaknya penduduk yang bermukim di Jakarta membuat ruang gerak menjadi sempit. Melihat hal ini seharusnya pemerintah bergerak cepat untuk mengatasi masalah yang terjadi di Jakarta sebagai ibu kota negara. Pembangunan yang terus terjadi di Jakarta membuat seolah daerah lain seperti di anak tirikan. Hal tersebut membuktikan bahwa masih adanya pembangunan yang tidak merata disegala bidang. Misalnya daerah timur di indonesia, seperti Papua masih terbilang sangat jauh tertinggal meskipun otonomi daerah sudah diberlakukan sejak tahun 2008 (Perpu No.1 Tahun 2008 mengenai otonomi khusus). Jakarta sejak jaman penjajahan hingga kemerdekaan terus melakukan pembangunan, akibatnya penyempitan lahan hijau semakin luas dikarenakan penggunaan lahan yang terus menerus tanpa melihat peruntukan lahan tersebut. Penumpukan masyarakat, baik dari kalangan elit hingga yang kecil membuat permasalahan semakin kompleks. Bahkan pemberitaan nasional pun terkonsentrasi hanya pada Jakarta, dikarenakan permasalahan tersebut diatas, yang tidak segara dicari pemecahannya.

Melihat kondisi diatas perlunya diadakan pengkajian wacana pemindahan Ibukota. Kondisi Jakarta sebagai sebuah ibu kota negara dirasakan semakin tidak nyaman. Beban fungsi pelayanan dan kelayakan Jakarta dirasakan semakin tidak optimal terutama akibat penyimpangan penataan ruang dan mempertimbangkan kemacetan lalu lintas, bencana banjir, dan kerawanan gempa. Selain itu, ketimpangan ekonomi di luar Jakarta dan didalam Jakarta sangat kelihatan. Sehingga diperlukan solusi strategis untuk pemindahan ibukota sebagai upaya untuk mengurangi beban kota Jakarta dan sebagai solusi untuk mendorong keseimbangan pembangunan wilayah dengan meredistribusi kegiatan pemerintahan, bisnis, seni, budaya dan industry keluar wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Pemindahan ibu kota negara itu merupakan hal yang lazim terjadi, sebagaimana Amerika Serikat yang pernah memindahkan ibu kota dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin, Inggris dari Winchester ke London, Pakistan dari Karachi ke Islamabad dan Brasil dari Rio de Jeneiro ke Brasilia.

Ada beberapa opsi terkait pemindahan ibu kota negara. Dan wacana ini pernah disampaikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010. Pertama, mempertahankan Jakarta sebagai ibukota sekaligus pusat pemerintahan  benahi Jakarta dengan membangun segala prasarana dan sarana transportasi yang masih di permukaan, di bawah permukaan, dan di atas permukaan. Kedua, mengikuti cara Malaysia yang membuat Putrajaya sebagai pusat pemerintahan, dan terletak tidak jauh dari Ibukota, di Kuala Lumpur. Malaysia membutuhkan waktu 5 – 7 tahun untuk membangun  Putrajaya. Dana yang dihabiskan sekitar Rp 80 triliun. Jadi disini adanya pemisahan antara ibukota pemerintahan dengan ibukota pusat perekonomian dan bisnis. Ketiga, ibukota dapat dipindahkan ke kota di luar Jakarta. The real capital, the real goverment center. Seperti Canberra (Australia), Brasilia (Brasil), Ankara (Turki), dan tempat-tempat yang lain. Tentu ketiga opsi ini ada positif dan negatifnya.

Melihat opsi pemindahan ibukota dan jati diri negara Republik Indonesia yang merupakan negara maritime dimana dua pertiga wilayahnya adalah laut dan terdiri dari banyak pulau2.  Pembangunan ibukota Indonesia yang baru tidak boleh lepas dari konsep dan jiwa bahari/maritime. Apalagi di pemerintahan yang baru ini telah digagas sebuah visi yakni Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia. Dimana didalam konsep poros maritime dunia terdapat lima prinsip utama yakni  membangun kembali budaya maritim Indonesia, kedua Indonesia akan menjaga dan mengelola sumber daya laut, dengan fokus membangun kedaulatan pangan melalui pengembangan industri perikanan, ketiga memprioritaskan pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim, keempat melaksanakan diplomasi maritime, terakhir membangun kekuatan pertahanan maritime. Untuk mewujudkan hal tersebut salah satunya harus ditunjang dan ditopang dengan ibukota republic yang berjiwa maritime yang kuat.

Didalam sejarah Indonesia masa lampau, terdapat kerajaan majapahit yang merupakan kerajaan maritime yang besar dan mampu menguasai sebagian besar wilayah nusantara bahkan hingga ke india dan Burma.  Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293. (Hall, D. G. E., Sejarah Asia Tenggara , Surabaya : Usaha Nasional, 1988. Hlm. 72). Aspek penunjang Majapahit sebagai kerajaan Maritim bukan hanya dengan armada angkatan laut yang kuat namun juga Kerajaan Majapahit memiliki pelabuhan-pelabuhan yang dapat menggerakan roda perekonomian rakyat pada saat itu. Berdasarkan pada catatan musafir Cina bernama Ma Huan dapat diketahui bahwa kehidupan masyarakat dan perekonomian Majapahit dalam masa tersebut relative maju, yang dimana penduduk di pantai utara di kota-kota  pelabuhan seperti Gresik, Tuban Surabaya, dan Canggu kebanyakan berprofersi sebagai  pedagang. Kota-kota pelabuhan tersebut banyak dikunjungi oleh pedagang asing yang berasal dari Arab, India, Asia Tenggara dan Cina. Ma huan memberitahukan bahwa di kota-kota  pelabuhan tersebut banyak terdapat orang-orang Cina dan Arab yang menetap dan berdagang di kota-kota tersebut.Sistem perdagangan pada kota-kota pelabuhan yang terdapat di Kerajaan Majapahit merupakan sebuah cirri utama dalam sebuah kerajaan maritime yang dimana melalui sistem perdangangan tersebut sangatlah mendorong perekonomian masyrakat Majapahit. (Aris Munandar, Agus,  Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian . Jakarta : Komunitas Bambu, 2008)

Ibukota Kerajaan Majapahit terletak di Trowulan, Mojokerto. Dimana di sekitar Mojokerto terdapat salah satu sungai terbesar di Jawa Timur dan terpanjang kedua di Pulau Jawa yakni sungai berantas.  Dahulunya sungai ini dijadikan sebagai sarana transportasi kapal-kapal majapahit. Daerah sepanjang sungai brantas ini juga subur dan dikenal sebagai penghasil bahan pertanian.  Majapahit tidak hanya dikenal sebagai negara maritime tetapi juga sebagai negara agraris. Para penggagas kerajaan Majapahit membangun kerajaan yang meramu dua basis kekuatan, maritim dan agraris. Visi tersebut didukung dengan lokasi Ibukota Kerajaan Majapahit di daerah hilir sungai (Brantas) yang strategis. Sehingga dapat memudahkan pengawasan perdagangan pesisir yang sekaligus dapat mengendalikan produksi pertanian di pedalaman. 

Pada era sekarang, Trowulan telah berubah menjadi sebuah kota yang terletak di mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Gambaran topografi di wilayah Kota Mojokerto meliputi dataran rendah, sungai sungai. Daerah dataran rendah di  Kota Mojokerto di dua Kecamatan. Sungai sungai yang mengalir di  Kota Mojokerto adalah sungai berantas yang membentang sepanjang 47, 25 Km dengan debet air rata rata 202,73/ 20, 21 M3 .Sungai berantas adalah satu satunya sungai yang terpanjang di Jawa Timur yang berhulu di  Kota Malang kemudian terbelah menjadi dua sungai kecil di Kota Mojokerto, yaitu sungai Porong yang menuju ke Kota Sidoarjo dan sungai Mas yang menuju ke Kota Surabaya dengan membentuk sebuah Delta yaitu terbentuknya kota Surabaya. Jumlah penduduk kota Mojokerto sekitar 134.222 dan kepadatan penduduknya tergolong rendah 8.152 jiwa per km2. Selain itu didaerah-daerah sekitar kota mojokerto, terdapat kota-kota dan kabupaten yang juga sangat subur dan terdapat potensi alam yang sangat memungkinkan untuk dikelola. Selain itu dengan ditunjang oleh pelabuhan-pelabuhan yang bagus di bagian utara jawa timur yakni pelabuhan tanjung perak yang menjadi salah satu bagian dalam rencana tol laut Indonesia yang nantinya dapat memudahkan untuk perdagangan. Selain itu, terdapat juga akses yang mudah untuk ke bandara Juanda di Surabaya dan Abdurahman Saleh di malang untuk transportasi udara.  

Melihat kondisi Jakarta yang tidak lagi memungkinkan sebagai ibukota Indonesai dan sekaligus mempertimbangkan posisi strategis dari kota Mojokerto dan sisi historis sebagai bekas ibukota kerajaan maritime terbesar majapahit, maka kami mempunyai gagasan untuk mengembalikan lagi kejayaan majapahit dengan memindahkan ibukota pemerintahan Indonesia ke Trowulan Mojokerto, bekas ibukota Majapahit. Untuk mengimplementasikannya kami membuat PKM GT ini dengan judul, “Trowulan National Capital City, Konsep Desain Ibukota Baru Republik Indonesia 2045 Berkonsep Waterfront and Maritime City Sebagai Solusi Untuk Mengurangi Beban Jakarta dan Menunjang Visi Indonesia Poros Maritim Dunia”

B. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan PKM GT ini adalah sebagai berikut :

Untuk membantu memberikan solusi bagi permasalahan Jakarta

Untuk mengembalikan lagi kejayaan Indonesia seperti pada zaman kejayaan kerajaan Majapahit

Untuk membangun sebuah desain ibukota RI masa depan yang berwawasan maritime yang kuat

Untuk mengembalikan ingatan rakyat Indonesia mengenai peradaban maritime nusantara

 

C. Manfaat

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan PKM GT ini adalah sebagai berikut :

Bagi mahasiswa

Dapat ikut serta dalam mengawal pembangunan Indonesia

Dapat menambah kecintaan dan rasa peka dalam berbangsa dan bernegara

Bagi pemerintah

Mendapat masukan untuk memutuskan kebijakan-kebijakan terkait dengan keberlangsungan republic Indonesia di masa depan

 

Referensi :

Dahuri, R. et al, 1996. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT.

Pramadya Paramita, Jakarta.

Badan Pusat Statistik

http://www.merdeka.com/dunia/lima-negara-ini-pernah-mengalami-perpindahan-ibu-kota.html

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/175949-sby–tiga-opsi-pemindahan-ibukota-dan-macet

http://diknas.mojokertokota.go.id/index.php?view=article&task=showDetail&id=6

Konsep Pengembangan Kawasan Natuna Terintegrasi Tol Laut

Rancangan-Arsitektur-Tol-Laut-Indonesia

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan dimulai pada akhir tahun 2015. Tujuan utama dicanangkannya MEA ini adalah untuk meningkatkan daya saing negara-negara anggota ASEAN dikancah dunia dengan peningkatan perdagangan, investasi, pariwisata, dan pembangunan negara-negara anggota ASEAN. Sehingga, diperlukan konektivitas intra-regional yang baik untuk mendukung aliran sumberdaya manusia, barang, jasa, dan modal yang diperlukan. Salah satunya adalah konektivitas maritim yang menyokong 90% aliran sumberdaya tersebut. ASEAN telah mengembangkan sistem “Ring Shipping Route” dengan menunjuk 47 pelabuhan utama di jaringan transportasi intra-ASEAN untuk melayani lalu lintas perdagangan via laut di kawasan ASEAN.

Kawasan Asia Tenggara, sebagai tempat domisili Masyarakat ASEAN, memiliki luas wilayah 4.481 km2 terdiri dari wilayah daratan (mainland) dan kepulauan (island) yang dihubungkan oleh perairan laut, yang terluas adalah Laut China Selatan. Laut China Selatan memiliki peran yang sangat penting bagi ASEAN sebagai penghubung utama karena letaknya yang secara geografis berada di tengah-tengah Kawasan Asia Tenggara. Laut China Selatan juga memiliki peran penting sebagai Sea Lanes of Communication (SLoC) dan Sea Lanes of Trade (SLoT). Jalur ini sangat vital bagi perdagangan internasional dan pemasok energi yang merupakan modal utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan dan dunia. Perairan ini juga menjadi semakin vital keberadaannya setelah terjadi pergeseran peta politik dan peta ekonomi dunia ke Kawasan Asia Pasifik akibat peningkatan kekuatan ekonomi dan militer China.

Salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang berhasil mengoptimalkan potensi  jalur SloC dan SloT adalah negara Singapore. Pelabuhan Singapura merupakan salah satu pelabuhan top dan terbesar di dunia nomor dua setelah pelabuhan Shanghai, China, dengan throughput (lalu lintas) peti kemas pada tahun 2013 mencapai 32.6 juta TEUS (Twenty Foot Equivalent Unit) atau Boks (ukuran 20 feet) dan 139 ribu kedatangan kapal,  mengalahkan pelabuhan-pelabuhan top Eropa seperti Rotterdam, Belanda (urutan ke-11) dan Hamburg, Jerman (urutan ke-14). Jumlah ini sangat jauh jika dibandingkan dengan throughput peti kemas di dua pelabuhan besar di Indonesia seperti Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak, masing-masing 6 juta TEUS dan 3 juta TEUS. Tak ayal pendapatan dari Pelabuhan Singapura mampu menyumbangkan sekitar 7 persen dari Gross Domestic Product (GDP).

Pemerintahan Indonesia yang baru (Jokowi-JK) mencanangkan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia yang salah satunya akan diwujudkan dengan memprioritaskan pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritime melalui Konsep Jalur Tol Laut. Tol Laut merupakan penyelenggaraan angkutan laut secara tetap dan teratur yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan hub disertai feeder dari Sumatera hingga ke Papua dengan menggunakan kapal-kapal berukuran besar. Dari pelabuhan-pelabuhan utama tersebut dilakukan distribusi logistic dengan kapal perintis di dalam jaringan sub-koridor. Pelabuhan utama Tol laut berada di Balawan, Jakarta, Surabaya, Makassar dan Sorong.  Konsep Tol Laut berangkat dari permasalahan besarnya biaya logistik nasional terutama pengiriman ke wilayah Indonesia bagian timur. Beberapa barang tertentu di Indonesia bagian timur harganya jauh lebih mahal dibanding daerah di Indonesia bagian barat. Bahkan pengiriman barang didalam negeri lebih mahal daripada keluar negeri.

Secara umum, program ini mirip dengan Konsep Pendulum Nusantara yang digagas oleh Pelindo.  Kelemahan kedua konsep ini adalah belum adanya rencana pengembangan Perairan Laut China Selatan dalam upaya membangun konektivitas maritime Indonesia. Padahal, perairan ini memiliki posisi strategis  di kawasan ASEAN serta sumberdaya alam yang sangat besar untuk bisa menggeser posisi kekuatan ekonomi singapura dan menjadikan Indonesia sebagai Regional Maritime Power di Asia Tenggara untuk menuju Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Untuk mengatasi kelemahan kedua konsep tersebut maka kami mempunyai gagasan untuk mengintegrasikan Pembangunan Kawasan Natuna dengan  konsep Tol Laut. Perairan Natuna memiliki beberapa gugusan pulau yakni Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natuna dengan pulau terbesar adalah Pulau Bunguran di Kepulauan Natuna. Keberadaan Natuna secara geografis, berada pada jalur SLoC yang merupakan jalur laut pengapalan dunia dan juga ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) yang merupakan alur pelayaran kapal di Indonesia. Laut Natuna., secara geopolitik berbatasan langsung dengan Laut China Selatan dan berada di sentral negara-negara ASEAN. Dan secara geo-ekonomi berada pada jalur SLoT yang menjadi penghubung Selat Malaka dengan Kawasan Asia Pasifik dan merupakan jalur pelayaran yang tersibuk didunia. Kawasan ini juga diprediksi memiliki cadangan energi dan sumberdaya laut yang melimpah. Kawasan Natuna memiliki luas wilayah 264.198,3 km2. Dengan luas daratan 2.001,3 km2 (setara 3 kali Jakarta dan 2,5 kali Singapura) dan lautan 262.197,07 km2.

Melalui pembangunan pelabuhan internasional  dengan berbagai fasilitas pendukungnya di Pulau Bunguran dan mengintegrasikan pelabuhan Natuna dengan jalur Tol Laut, maka Natuna akan berubah menjadi salah satu daya tarik pelayaran dunia. Pulau Bunguran dikembangkan sebagai pelabuhan transit dua jalur ekonomi, yaitu Tol Laut dan SLoT. Keuntungan dari integrasi ini yaitu akan terjadi peningkatan arus barang dan jasa yang akan melalui dua jalur tersebut. Kekayaan sumber daya yang dimiliki Indonesia tentu menarik minat dunia singgah di Natuna. Dengan begitu, akan terbentuk kawasan ekonomi Natuna. Letak geografis Natuna yang sentral di ASEAN dan posisinya yang berada di Laut China Selatan akan menguntungkan Natuna untuk lebih dipilih menjadi pusat ekonomi dibandingkan Singapura. Sehingga, diharapkan akan terjadi pergeseran ekonomi dari Singapura menuju Natuna dan pada akhirnya Kawasan Natuna akan menjadi Poros Maritim Dunia.

by : @nantodenanto & @habibprasetya
for OKTI Prancis Paper Competition