Konsep Pengembangan Kawasan Natuna Terintegrasi Tol Laut

Rancangan-Arsitektur-Tol-Laut-Indonesia

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan dimulai pada akhir tahun 2015. Tujuan utama dicanangkannya MEA ini adalah untuk meningkatkan daya saing negara-negara anggota ASEAN dikancah dunia dengan peningkatan perdagangan, investasi, pariwisata, dan pembangunan negara-negara anggota ASEAN. Sehingga, diperlukan konektivitas intra-regional yang baik untuk mendukung aliran sumberdaya manusia, barang, jasa, dan modal yang diperlukan. Salah satunya adalah konektivitas maritim yang menyokong 90% aliran sumberdaya tersebut. ASEAN telah mengembangkan sistem “Ring Shipping Route” dengan menunjuk 47 pelabuhan utama di jaringan transportasi intra-ASEAN untuk melayani lalu lintas perdagangan via laut di kawasan ASEAN.

Kawasan Asia Tenggara, sebagai tempat domisili Masyarakat ASEAN, memiliki luas wilayah 4.481 km2 terdiri dari wilayah daratan (mainland) dan kepulauan (island) yang dihubungkan oleh perairan laut, yang terluas adalah Laut China Selatan. Laut China Selatan memiliki peran yang sangat penting bagi ASEAN sebagai penghubung utama karena letaknya yang secara geografis berada di tengah-tengah Kawasan Asia Tenggara. Laut China Selatan juga memiliki peran penting sebagai Sea Lanes of Communication (SLoC) dan Sea Lanes of Trade (SLoT). Jalur ini sangat vital bagi perdagangan internasional dan pemasok energi yang merupakan modal utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan dan dunia. Perairan ini juga menjadi semakin vital keberadaannya setelah terjadi pergeseran peta politik dan peta ekonomi dunia ke Kawasan Asia Pasifik akibat peningkatan kekuatan ekonomi dan militer China.

Salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang berhasil mengoptimalkan potensi  jalur SloC dan SloT adalah negara Singapore. Pelabuhan Singapura merupakan salah satu pelabuhan top dan terbesar di dunia nomor dua setelah pelabuhan Shanghai, China, dengan throughput (lalu lintas) peti kemas pada tahun 2013 mencapai 32.6 juta TEUS (Twenty Foot Equivalent Unit) atau Boks (ukuran 20 feet) dan 139 ribu kedatangan kapal,  mengalahkan pelabuhan-pelabuhan top Eropa seperti Rotterdam, Belanda (urutan ke-11) dan Hamburg, Jerman (urutan ke-14). Jumlah ini sangat jauh jika dibandingkan dengan throughput peti kemas di dua pelabuhan besar di Indonesia seperti Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak, masing-masing 6 juta TEUS dan 3 juta TEUS. Tak ayal pendapatan dari Pelabuhan Singapura mampu menyumbangkan sekitar 7 persen dari Gross Domestic Product (GDP).

Pemerintahan Indonesia yang baru (Jokowi-JK) mencanangkan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia yang salah satunya akan diwujudkan dengan memprioritaskan pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritime melalui Konsep Jalur Tol Laut. Tol Laut merupakan penyelenggaraan angkutan laut secara tetap dan teratur yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan hub disertai feeder dari Sumatera hingga ke Papua dengan menggunakan kapal-kapal berukuran besar. Dari pelabuhan-pelabuhan utama tersebut dilakukan distribusi logistic dengan kapal perintis di dalam jaringan sub-koridor. Pelabuhan utama Tol laut berada di Balawan, Jakarta, Surabaya, Makassar dan Sorong.  Konsep Tol Laut berangkat dari permasalahan besarnya biaya logistik nasional terutama pengiriman ke wilayah Indonesia bagian timur. Beberapa barang tertentu di Indonesia bagian timur harganya jauh lebih mahal dibanding daerah di Indonesia bagian barat. Bahkan pengiriman barang didalam negeri lebih mahal daripada keluar negeri.

Secara umum, program ini mirip dengan Konsep Pendulum Nusantara yang digagas oleh Pelindo.  Kelemahan kedua konsep ini adalah belum adanya rencana pengembangan Perairan Laut China Selatan dalam upaya membangun konektivitas maritime Indonesia. Padahal, perairan ini memiliki posisi strategis  di kawasan ASEAN serta sumberdaya alam yang sangat besar untuk bisa menggeser posisi kekuatan ekonomi singapura dan menjadikan Indonesia sebagai Regional Maritime Power di Asia Tenggara untuk menuju Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Untuk mengatasi kelemahan kedua konsep tersebut maka kami mempunyai gagasan untuk mengintegrasikan Pembangunan Kawasan Natuna dengan  konsep Tol Laut. Perairan Natuna memiliki beberapa gugusan pulau yakni Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natuna dengan pulau terbesar adalah Pulau Bunguran di Kepulauan Natuna. Keberadaan Natuna secara geografis, berada pada jalur SLoC yang merupakan jalur laut pengapalan dunia dan juga ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) yang merupakan alur pelayaran kapal di Indonesia. Laut Natuna., secara geopolitik berbatasan langsung dengan Laut China Selatan dan berada di sentral negara-negara ASEAN. Dan secara geo-ekonomi berada pada jalur SLoT yang menjadi penghubung Selat Malaka dengan Kawasan Asia Pasifik dan merupakan jalur pelayaran yang tersibuk didunia. Kawasan ini juga diprediksi memiliki cadangan energi dan sumberdaya laut yang melimpah. Kawasan Natuna memiliki luas wilayah 264.198,3 km2. Dengan luas daratan 2.001,3 km2 (setara 3 kali Jakarta dan 2,5 kali Singapura) dan lautan 262.197,07 km2.

Melalui pembangunan pelabuhan internasional  dengan berbagai fasilitas pendukungnya di Pulau Bunguran dan mengintegrasikan pelabuhan Natuna dengan jalur Tol Laut, maka Natuna akan berubah menjadi salah satu daya tarik pelayaran dunia. Pulau Bunguran dikembangkan sebagai pelabuhan transit dua jalur ekonomi, yaitu Tol Laut dan SLoT. Keuntungan dari integrasi ini yaitu akan terjadi peningkatan arus barang dan jasa yang akan melalui dua jalur tersebut. Kekayaan sumber daya yang dimiliki Indonesia tentu menarik minat dunia singgah di Natuna. Dengan begitu, akan terbentuk kawasan ekonomi Natuna. Letak geografis Natuna yang sentral di ASEAN dan posisinya yang berada di Laut China Selatan akan menguntungkan Natuna untuk lebih dipilih menjadi pusat ekonomi dibandingkan Singapura. Sehingga, diharapkan akan terjadi pergeseran ekonomi dari Singapura menuju Natuna dan pada akhirnya Kawasan Natuna akan menjadi Poros Maritim Dunia.

by : @nantodenanto & @habibprasetya
for OKTI Prancis Paper Competition

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s